Connect with us

AGROBISNIS

Demplot Pupuk Indonesia Genjot Produksi Pertanian Hingga 30 Persen

Published

on

Anak usaha PT Pupuk Indonesia berhasil meningkatkan produktivitas pertanian hingga 30 persen.

Ekbis.co.id, Jakarta – Program demonstration plot (demplot) yang dilakukan oleh anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) yaitu Pupuk Kujang, Pupuk Sriwidjaja Palembang, Petrokimia Gresik dan Pupuk Kaltim berhasil meningkatkan produktivitas pertanian hingga 30 persen.

“Penggunaan pupuk berimbang untuk sejumlah komoditi terbukti berhasil meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat seperti padi, jagung, dan bawang,” kata Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Program demplot adalah metode penyuluhan langsung kepada petani dengan membuat lahan percontohan untuk mendorong produktifitas dan hasil pertanian, penggunaan pupuk secara tepat dan berimbang sehingga hasil panen lebih maksimal.

Wijaya mencontohkan, program demplot Pupuk Indonesia Group tercatat telah dilakukan di 109 unit di berbagai wilayah diantaranya, NTB, Jatim, Jabar dan Jateng sepanjang tahun 2019.

“Dengan jenis tanaman yang berbeda dengan karakteristik lahan yang beragam, maka dibutuhkan pola pemupukan yang sesuai untuk mendorong produktivitas lahan,” jelas Wijaya.

Salah satu program demplot Pupuk Kaltim yaitu Kelompok Tani Ambalawi Jaya di Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tengara Barat (NTB) yang terbukti dapat meningkatkan produki bawang merah hingga 30 persen atau mencapai 20 ton per ha.

Program demplot ini diterapkan pada lahan 0,25 ha dengan komposisi pemupukan Urea (prill daun buah) 300kg/ha, NPK Phonska 300 kg/ha dan Pupuk Daun 30 liter/ha. Perlakuan II (PKT-1) pada lahan 0,25 ha, dengan komposisi pemupukan Urea (prill daun buah) 300kg/ha, NPK Pelangi (16-16-16) 300 kg/ha, Organik 5000 kg/ha dan Ecofert 40 kg/ha.

Damrus, mewakili Kelompok Tani Ambalawi Jaya, mengatakan dengan pola pemupukan berimbang menggunakan produk NPK Pelangi komposisi 16-16-16 dari Pupuk Kaltim. Menurut dia, selama ini petani bawang merah di Kecamatan Ambalawi hanya mampu menghasilkan 15 ton per hektare, itu pun jika didukung cuaca cerah.

Namun pada demplot kali ini, meski curah hujan terbilang tinggi, ternyata tidak mempengaruhi hasil panen yang jauh lebih signifikan.

“Umbi bawang yang dihasilkan juga jauh lebih besar dari biasanya. Apalagi kalau musim hujan seperti saat ini, pasti banyak yang busuk. Tapi hasil demplot sepertinya tidak terpengaruh curah hujan dan panen tetap maksimal,” ujar Damrus.

Peningkatan produktivitas bawang merah melalui demplot ini disambut antusias Pemerintah Kabupaten Bima melalui Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Indra Jaya.

Hasil panen bawang merah yang mencapai 20 ton per hektare tidak pernah terjadi di Bima dalam 10 tahun terakhir. Jika pola pemupukan berimbang menggunakan NPK Pelangi berdasarkan demplot diterapkan petani secara konsisten, diharapkan Kabupaten Bima akan kembali meraih kejayaan sentra bawang merah di Indonesia.

Program demplot lainnya juga dilakukan di Kabupaten Sumenep oleh Petrokimia Gresik dengan menggunakan NPK Phonska Plus. Program ini terbukti meningkatkan hasil panen padi di wilayah tersebut sebanyak rata-rata 7,2 ton per hektarnya.

“Terjadi kenaikan signifikan sekitar 1,5 ton per hektar, karena selama ini saya panen padi di sawah paling hanya 5,7 ton, bahkan pernah hanya mencapai 4,5 ton per hektar”, kata Ketua Gapoktan Al-Mawwada, Imron Fauzi.

Dengan pengaruh positif program demplot terhadap produktifitas lahan dan meningkatkan hasil panen, Wijaya berharap program ini dilakukan secara konsisten terutama di wilayah-wilayah lumbung padi nasional. (roy)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

AGROBISNIS

Harga Bawang Putih Rp 100 Ribu, Telur Ayam Rp 30 Ribu

Published

on

Bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram.

Ekbis.co.id, Depok – Harga bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram, dalam sepekan terakhir harganya naik terus. Bahkan kini harganya mencapai Rp 100 ribu per kilo.

Sedangkan harga bawang merah meski mengalami kenaikan tapi belum tembus Rp 100 ribu. Per kilogram untuk bawang merah super Rp 50 ribu dari sebelumnya Rp 35 ribu.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada telur ayam. Yang sebelumnya Rp 22 ribu per kilo naik menjadi Rp 30 ribu.

Sayuran-sayuran seperti wortel juga mengalami lonjakan dari Rp 9 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu. Demikian juga buncis yang harganya naik dari Rp 9 ribu menjadi Rp 18 ribu per kilogram.

Rini Suryadi, warga Parung kepada JPNN mengaku terkejut dengan lonjakan harga bawang putih. Sebelum Ramadan memang sudah mengalami kenaikan. Namun, tiap hari naik sehingga tembus Rp 100 ribu.

“Saya kaget belanja di pasar kok mahal banget. Sengaja cari di pasar biar lebih murah, eh malah mahal banget,” ujar Rini, Kamis (16/5).

Keluhan juga diungkapkan Nicha. Gara-gara bahan pangan naik, dia jadi kesulitan mencari keuntungan untuk dagangan kuenya.

Biasanya Nicha menjual risolesnya Rp 5 ribu per buah, kini tidak bisa lagi. Namun, untuk menaikkan harga dia takut pelanggannya lari.

“Serba salah nih. Mau naikin harga takutnya pada protes. Mau kurangj volume kuenya diprotes juga. Terpaksa bertahan dulu, tunggu sampai habis lebaran. Kalau harganya enggak turun terpaksa saya naikin biar enggak rugi,” tandasnya. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Meski Belum Terjangkit, KKP Gencar Cegah Sindrom Kematian Dini Udang

Published

on

KKP berupaya meningkatkan sosialisasi pencegahan penyakit sindrom kematian dini udang.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya meningkatkan sosialisasi pencegahan penyakit sindrom kematian dini udang (biasa disingkat EMS atau AHPND) melalui kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan sektor kelautan dan perikanan nasional.

Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (17/5/2019), mengemukakan, sepanjang bulan April hingga Mei 2019 KKP bersama stakeholder perikanan budi daya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), usaha pengolahan dan lainnya melakukan road show sosialisasi pencegahan penyakit ini di Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, ujar dia, KKP juga membentuk dan mengintensifkan peran tim gugus tugas pencegahan penyakit AHPND beranggotakan unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan pakar.

“KKP terus melakukan surveilance atau pengawasan terhadap cara budi daya ikan yang baik, penggunaan induk, dan memonitor residu. Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut sosialisasi ini Ditjen Perikanan dan Budi daya akan menerjunkan pengawas pembudi daya ikan untuk memonitor kegiatan budi daya di masyarakat,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, EMS/AHPND merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik dan finansial pada industri budi daya udang yang telah terjadi di beberapa negara sehingga berpotensi mengancam produksi udang.

Penyakit ini ditimbulkan oleh adanya infeksi Vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND) yang mampu memproduksi toksin. Pada umumnya, AHPND rentan menyerang udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Penaeus vannamei) dengan mortalitas mencapai 100 persen pada stadia postlarvae (PL) umur 30-35 hari dan udang usia kurang dari 40 hari setelah tebar ditambak.

Pertama kali ditemukan di Republik Rakyat China pada tahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease. Pada Tahun 2011, AHPND dilaporkan telah menyerang Vietnam dan Malaysia, disusul Thailand (2012), Meksiko (2013) dan Filipina (2015). Saat ini India juga dilaporkan diduga terserang AHPND, namun belum ada notifikasi dari pihak pemerintah India.

FAO mencatat, dalam kurun waktu tiga tahun, produksi udang di Thailand mengalami penurunan produksi yang drastis dari 609.552 ton pada 2013 menjadi 273.000 ton pada 2016 akibat serangan AHPND.

Sedangkan dampak kerugian ekonomi yang dialami Vietnam selama kurun waktu 2013 – 2015 adalah sebesar 216,23 juta dolar AS atau rata-rata sebesar 72 juta dolar per tahun.

“Indonesia hingga saat ini masih terbebas dari penyakit EMS/AHPND, namun jika melihat dari latar belakang munculnya penyakit ini, maka segala potensi resiko dalam industri budi daya udang nasional harus diantisipasi secara serius. Indonesia mewaspadai masuknya penyakit lintas batas yang dapat mengancam industri perudangan nasional dalam hal ini wabah AHPND dari negara terjangkit,” ujarnya. (mrr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Menperin : SDM Jadi Basis Perekonomian dalam Industri 4.0

Published

on

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Ekbis.co.id, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi basis perekonomian dalam revolusi Industri 4.0 sehingga Kemenperin mendorong pembangunan “coworking space” untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak muda agar lebih kreatif dan inovatif.

Melalui keterangannya di Jakarta, Jumat (17/5/2019), Airlangga juga mengatakan bahwa pemerintah terus mengajak anak-anak muda di seluruh Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan ikut berperan aktif dalam era industri digital.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talents. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” kata Airlangga.

Menperin meyakini, keberadaan coworking space dapat menciptakan talenta-talenta anak muda yang mampu bersaing di era industri digital.

Upaya ini telah dilakukan di beberapa daerah melalui kerja sama dengan universitas. Sejumlah daerah yang sudah memiliki coworking space tersebut, antara lain di Bandung, Batam, Bali, Makassar dan Palu.

“Coworking space ini akan didorong dengan palapa ring dan digitalisasi infrastruktur, yang ditargetkan bisa selesai sampai ke Papua. Kalau ini bisa berjalan, saya optimistis talenta-talenta di daerah bisa tumbuh, terutama yang dekat dengan universitas,” terangnya.

Di samping itu, untuk menciptakan anak-anak muda bertalenta di era ekonomi digital, pemerintah juga mendorong pendidikan-pendidikan yang sifatnya kelas dunia.

Salah satunya melalui Apple Academy yang bekerjasama dengan Binus University di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten.

“Program di Apple Academy ini ditargetkan dapat menghasilkan 200 lulusan dalam satu tahun, di mana dalam satu tahun program pendidikan mereka bisa menjual produknya di App Store (toko aplikasi di perangkat Apple), sehingga masuk langsung ekspor dalam ke global market,” ungkapnya.

Selanjutnya, Apple Academy yang kedua akan dibangun di Surabaya bekerja sama dengan Ciputra University, dan yang ketiga di Nongsa, Batam. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending