Connect with us

TOURISM

Pengelola Desa Wisata Serang akan Bangun “Cottage” Bernuansa Alam

Published

on

Pengelola desa wisata Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, akan membangun "cottage" dengan konsep ramah lingkungan.

Ekbis.co.id, Purbalingga – Pengelola desa wisata Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, akan membangun “cottage” dengan konsep ramah lingkungan untuk wisatawan yang ingin menginap sambil menikmati nuansa alam.

“Menurut rencana untuk tahap awal ini akan kami bangun sekitar lima unit dulu,” kata Kepala Desa Wisata Serang, Sugito di Purbalingga, Minggu (12/5/2019).

Dia mengatakan, pembangunan “cottage” merupakan bagian dari rencana pengembangan desa wisata itu pada 2019.

“Tahun ini kami akan mengembangkan cottage, dan juga aula pertemuan, hingga kolam renang,” katanya.

Sebagian besar pembangunan tersebut, kata dia, akan berlokasi di Lembah Asri Desa Wisata Serang.

Pihaknya menargetkan pada akhir 2019 ini cottage tersebut sudah dapat dinikmati oleh wisatawan yang datang berkunjung.

Dengan berbagai pengembangan yang dilakukan, kata dia, pihaknya berharap akan dapat meningkatkan jumlah angka kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

Sebelumnya, pengelola desa wisata Serang, pada tahun ini menargetkan pendapatan sebesar Rp5 miliar dari destinasi agrowisata Lembah Asri.

Sugito menjelaskan, sebagai perbandingan, pada 2018 pendapatan dari agrowisata Lembah Asri sebesar Rp2,5 miliar.

Dia mengatakan untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya juga terus berupaya menambah berbagai wahana baru.

Menurut dia, desa wisata yang berada di kaki Gunung Slamet tersebut sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki panorama yang indah.

Pada saat ini, banyak pilihan destinasi wisata di Desa Serang yang bisa dijelajahi oleh pengunjung, mulai dari Kampung Kurcaci, Lembah Asri, Pudangmas, Bukit Sikopyah hingga Gardu Pandang Gunungmalang.

Sebelumnya dia mengatakan, sektor pariwisata telah menumbuhkan perekonomian warga setempat.
Pasalnya, destinasi yang ada di desa wisata Serang, sebagian besar dikelola oleh penduduk lokal yang ada di sekitar objek wisata. (wur)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOURISM

NTT Siapkan BUMDes untuk Kelola Wisata Pantai Liman

Published

on

Wisata Pantai Liman, di Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Ekbis.co.id, Kupang – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sinun Petrus Manuk, menyatakan sedang menyiapkan badan usaha milik desa (BUMDes) untuk mengelola objek wisata Pantai Liman, di Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

“Objek wisata Pantai Liman akan dikelola BUMDes setempat, kami sedang persiapan dan diperkuat, baik sumber daya manusia maupun kelembagaan,” katanya kepada Antara di Kupang, Jumat (17/5/2019).

Ia mengatakan, pengelolaan objek wisata Pantai Liman akan dilakukan berbasis desa. Ia menyebut konsep pengelolaan yang diterapkan yaitu BUMDes tourism estate.

Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran sekitar Rp2 miliar untuk mulai menata Pantai Liman yang menyimpan keindahan alam pantai berpasir putih yang luas, laut yang jernih, serta perbukitan.

“Alokasi ini untuk mendukung pembangunan rumah inap, lopo-lopo, dan fasilitas pendukung lainnya yang selanjutnya dikelola melalui BUMDes,” katanya.

Petrus Manuk mengatakan pihaknya akan memperkuat BUMDes yang mengelola objek wisata tersebut agar bisa mendatangkan keuntungan.

Ia mencontohkan objek wisata Lapale Hills di Kabupaten Sumba Barat, Pulau Sumba, yang sudah dikelola BUMDes dengan penghasilan rata-rata setiap bulan mencapai Rp40 juta.

“Yang kita inginkan itu BUMDes dikelola dengan prinsip binis agar bisa memberikan keuntungan untuk kemajuan pembangunan di desa,” katanya.

Ia menargetkan hingga akhir 2019 akan menghasilkan delapan BUMDes di provinsi setempat yang khusus untuk mengelola pariwisata, salah satunya di Pantai Liman.

Sementara BUMDes lainnya menyebar di sejumlah kabupaten di antaranya, Alor, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Lembata, dan Ende, dan Rote Ndao. (alo)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOURISM

Asita Sebut Tiket Pesawat Mahal Jadi Masalah Serius Pariwisata NTT

Published

on

Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Abed Frans.

Ekbis.co.id, Kupang – Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Abed Frans mengatakan tarif transportasi udara yang mahal masih menjadi masalah serius bagi pengembangan pariwisata di provinsi berbasiskan kepulauan itu.

“Mahalnya tiket pesawat sejauh ini memang masih menjadi masalah serius bagi pariwisata kita di NTT,” katanya di Kupang, Jumat, terkait tarif transportasi udara di Tanah Air yang dinilai masih mahal dan dampaknya terhadap pariwisata di Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, berbagai upaya promosi pariwisata yang dilakukan untuk peningkatan kunjungan wisatawan tidak memberi dampak yang signifikan jika biaya perjalanan mahal.

Dicontohkannya seperti harga tiket pesawat untuk keberangkatan Jakarta-Kupang yang masih berkisar Rp2,5 juta hingga Rp3 jutaan. Selain itu, tarif keberangkatan dari Kota Kupang ke daerah-daerah kabupaten juga bisa mencapai di atas Rp1 juta.

“Selain tarif mahal, belum lagi ada maskapai yang mulai mengurangi frekuensi penerbangan bahkan ada yang meniadakan,” katanya.

Ia menambahkan, “Ini jadi masalah serius, apalagi kita di NTT belum punya penerbangan langsung ke luar negeri sehingga sulit meningkatkan kunjungan wisatawan asing,” katanya.

Menurut Abed, ketika kondisi tarif penerbangan masih mahal maka berbagai kegiatan pariwisata di daerah-daerah akan sulit dijangkau wisatawan dari luar.

“Artinya event yang digelar di daerah jadinya dari kita untuk kita bukan dari kita untuk wisatawan, karena animo dari luar kurang,” katanya.

Untuk itu, ia berharap, pemerintah daerah yang terkena dampak mahalnya tarif penerbangan agar duduk bersama mencarikan solusi terbaik bersama maskapai di tingkat pusat.

“Suara-suara dari pemerintah daerah yang terkena dampak juga harusnya sudah ada, sehingga bisa menjadi perhatian serius pihak maskapai,” katanya. (alo)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOURISM

Pemprov Babel Bangun Kawasan Konservasi Laut Belitung

Published

on

Kepulauan Bangka Belitung akan membangun kawasan koservasi perikanan di laut Belitung.

Ekbis.co.id, Pangkalpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan membangun kawasan koservasi perikanan di laut Belitung, guna meningkatkan ketersediaan ikan dan kesejahteraan nelayan tradisional di daerah itu.

“Saat ini kita masih membahas dan mengkaji luasan, lokasi, titik kordinat kawasan konservasi di laut Belitung,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Babel, Dasmito usai rapat koordinasi pembentukan kawasan konservasi laut Belitung di Pangkalpinang, Kamis (16/5/2019).

Menurut dia, apabila luas, lokasi dan titik kordinat kawasan konservasi ini sudah disepakati, maka pemprov akan segera mengajukannya ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Surat Keputusan Gubernur Kepulauan Babel.

“Kegiatan rakor ini, kita ingin mendapatkan masukan stakeholder dan pihak terkait dalam mempercepat kawasan konservasi perikanan di Belitung,” katanya.

Ia mengatakan pembangunan kawasan konservasi ini sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan sumber daya perikanan yang semakin lestari di laut Belitung.

“Apabila stok perikanan semakin lestari tentu akan meningkatkan hasil tangkapan ikan dan pendapatan keluarga nelayan tradisional,” katanya.

Ia menambahkan kawasan konservasi ini adalah sebagai tempat berkumpul, pemijahan dan pembesaran ikan di laut.

“Semakin banyak ikan di laut Babel tentu ini menjadi kontribusi bagi kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir di daerah ini,” katanya. (apr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending