Connect with us

AGROBISNIS

Investor Timor Leste akan Kembangkan Usaha Udang di Kota Kupang

Published

on

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Orson Nawa.

Ekbis.co.id, Kupang – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Orson Nawa mengatakan bahwa investor asal negara Timor Leste akan menanamkan modal untuk mengembangkan usaha perikanan udang serta membangun pabrik es di ibu kota provinsi berbasis kepulauan ini.

“Investor asal Timor Leste itu sudah melakukan peninjauan ke beberapa lokasi yang akan menjadi pusat investasi pengembangan usaha perikanan udang serta pembangunan pabrik es untuk kepentingan pembekuan udang,” kata Orson Nawa di Kupang, Senin (13/5/2019).

Ia mengatakan, investor asal Timor Leste itu hanya fokus pada pengembangan usaha udang karena kebutuhan udang di negara Timor Leste sangat tinggi.

“Mereka lebih fokus pada usaha perikanan udang guna memenuhi kebutuhan udang dalam negeri di negara itu,” kata Orson.

Orson mengatakan, investor asal Timor Leste lebih tertarik mengembangkan usaha perikanan udang di Kota Kupang karena kualitas udang dari daerah ini sangat bagus sehingga diminati konsumen di negara itu.

Menurut dia, rencana investasi perikanan yang dilakukan pengusaha asal Timor Leste itu telah memasuki tahap pembahasan di tingkat pemerintah pusat.

“Investasi ini pasti akan direalisasikan karena sudah dibahas di Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Luar Negeri,” tegas Orson.

Menurut Orson, kehadiran investor luar negeri yang mengembangkan investasi di bidang kelautan perikanan mampu mendorong peningkatan produksi perikanan laut para nelayan lokal di Kota Kupang.

“Hasil tangkapan para nelayan juga bisa dijual ke perusahan asal Timor Leste itu sehingga kesejahteraan para nelayan Kota Kupang menjadi lebih meningkat,” tegas Orson. (ben)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AGROBISNIS

Harga Bawang Putih Rp 100 Ribu, Telur Ayam Rp 30 Ribu

Published

on

Bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram.

Ekbis.co.id, Depok – Harga bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram, dalam sepekan terakhir harganya naik terus. Bahkan kini harganya mencapai Rp 100 ribu per kilo.

Sedangkan harga bawang merah meski mengalami kenaikan tapi belum tembus Rp 100 ribu. Per kilogram untuk bawang merah super Rp 50 ribu dari sebelumnya Rp 35 ribu.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada telur ayam. Yang sebelumnya Rp 22 ribu per kilo naik menjadi Rp 30 ribu.

Sayuran-sayuran seperti wortel juga mengalami lonjakan dari Rp 9 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu. Demikian juga buncis yang harganya naik dari Rp 9 ribu menjadi Rp 18 ribu per kilogram.

Rini Suryadi, warga Parung kepada JPNN mengaku terkejut dengan lonjakan harga bawang putih. Sebelum Ramadan memang sudah mengalami kenaikan. Namun, tiap hari naik sehingga tembus Rp 100 ribu.

“Saya kaget belanja di pasar kok mahal banget. Sengaja cari di pasar biar lebih murah, eh malah mahal banget,” ujar Rini, Kamis (16/5).

Keluhan juga diungkapkan Nicha. Gara-gara bahan pangan naik, dia jadi kesulitan mencari keuntungan untuk dagangan kuenya.

Biasanya Nicha menjual risolesnya Rp 5 ribu per buah, kini tidak bisa lagi. Namun, untuk menaikkan harga dia takut pelanggannya lari.

“Serba salah nih. Mau naikin harga takutnya pada protes. Mau kurangj volume kuenya diprotes juga. Terpaksa bertahan dulu, tunggu sampai habis lebaran. Kalau harganya enggak turun terpaksa saya naikin biar enggak rugi,” tandasnya. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Meski Belum Terjangkit, KKP Gencar Cegah Sindrom Kematian Dini Udang

Published

on

KKP berupaya meningkatkan sosialisasi pencegahan penyakit sindrom kematian dini udang.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya meningkatkan sosialisasi pencegahan penyakit sindrom kematian dini udang (biasa disingkat EMS atau AHPND) melalui kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan sektor kelautan dan perikanan nasional.

Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (17/5/2019), mengemukakan, sepanjang bulan April hingga Mei 2019 KKP bersama stakeholder perikanan budi daya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), usaha pengolahan dan lainnya melakukan road show sosialisasi pencegahan penyakit ini di Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, ujar dia, KKP juga membentuk dan mengintensifkan peran tim gugus tugas pencegahan penyakit AHPND beranggotakan unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan pakar.

“KKP terus melakukan surveilance atau pengawasan terhadap cara budi daya ikan yang baik, penggunaan induk, dan memonitor residu. Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut sosialisasi ini Ditjen Perikanan dan Budi daya akan menerjunkan pengawas pembudi daya ikan untuk memonitor kegiatan budi daya di masyarakat,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, EMS/AHPND merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik dan finansial pada industri budi daya udang yang telah terjadi di beberapa negara sehingga berpotensi mengancam produksi udang.

Penyakit ini ditimbulkan oleh adanya infeksi Vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND) yang mampu memproduksi toksin. Pada umumnya, AHPND rentan menyerang udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Penaeus vannamei) dengan mortalitas mencapai 100 persen pada stadia postlarvae (PL) umur 30-35 hari dan udang usia kurang dari 40 hari setelah tebar ditambak.

Pertama kali ditemukan di Republik Rakyat China pada tahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease. Pada Tahun 2011, AHPND dilaporkan telah menyerang Vietnam dan Malaysia, disusul Thailand (2012), Meksiko (2013) dan Filipina (2015). Saat ini India juga dilaporkan diduga terserang AHPND, namun belum ada notifikasi dari pihak pemerintah India.

FAO mencatat, dalam kurun waktu tiga tahun, produksi udang di Thailand mengalami penurunan produksi yang drastis dari 609.552 ton pada 2013 menjadi 273.000 ton pada 2016 akibat serangan AHPND.

Sedangkan dampak kerugian ekonomi yang dialami Vietnam selama kurun waktu 2013 – 2015 adalah sebesar 216,23 juta dolar AS atau rata-rata sebesar 72 juta dolar per tahun.

“Indonesia hingga saat ini masih terbebas dari penyakit EMS/AHPND, namun jika melihat dari latar belakang munculnya penyakit ini, maka segala potensi resiko dalam industri budi daya udang nasional harus diantisipasi secara serius. Indonesia mewaspadai masuknya penyakit lintas batas yang dapat mengancam industri perudangan nasional dalam hal ini wabah AHPND dari negara terjangkit,” ujarnya. (mrr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Menperin : SDM Jadi Basis Perekonomian dalam Industri 4.0

Published

on

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Ekbis.co.id, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi basis perekonomian dalam revolusi Industri 4.0 sehingga Kemenperin mendorong pembangunan “coworking space” untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak muda agar lebih kreatif dan inovatif.

Melalui keterangannya di Jakarta, Jumat (17/5/2019), Airlangga juga mengatakan bahwa pemerintah terus mengajak anak-anak muda di seluruh Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan ikut berperan aktif dalam era industri digital.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talents. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” kata Airlangga.

Menperin meyakini, keberadaan coworking space dapat menciptakan talenta-talenta anak muda yang mampu bersaing di era industri digital.

Upaya ini telah dilakukan di beberapa daerah melalui kerja sama dengan universitas. Sejumlah daerah yang sudah memiliki coworking space tersebut, antara lain di Bandung, Batam, Bali, Makassar dan Palu.

“Coworking space ini akan didorong dengan palapa ring dan digitalisasi infrastruktur, yang ditargetkan bisa selesai sampai ke Papua. Kalau ini bisa berjalan, saya optimistis talenta-talenta di daerah bisa tumbuh, terutama yang dekat dengan universitas,” terangnya.

Di samping itu, untuk menciptakan anak-anak muda bertalenta di era ekonomi digital, pemerintah juga mendorong pendidikan-pendidikan yang sifatnya kelas dunia.

Salah satunya melalui Apple Academy yang bekerjasama dengan Binus University di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten.

“Program di Apple Academy ini ditargetkan dapat menghasilkan 200 lulusan dalam satu tahun, di mana dalam satu tahun program pendidikan mereka bisa menjual produknya di App Store (toko aplikasi di perangkat Apple), sehingga masuk langsung ekspor dalam ke global market,” ungkapnya.

Selanjutnya, Apple Academy yang kedua akan dibangun di Surabaya bekerja sama dengan Ciputra University, dan yang ketiga di Nongsa, Batam. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending