Connect with us

TRADE

Motor Gesits Dipasarkan Mulai Mei 2019

Published

on

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengamati salah satu inovasi yang dipamerkan di Indonesia Startup Summit 2019 di Jakarta International Expo, Jakarta, Rabu (10/04/2019).

Ekbis.co.id, Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan motor listrik Gesits akan dipasarkan mulai Mei 2019 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

“Bulan April ini sudah mulai produksi massal, Mei sudah mulai pemasaran,” kata Nasir kepada wartawan di sela-sela Indonesia Startup Summit 2019 di Jakarta International Expo, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Dia mengatakan produksi motor Gesits setiap bulan diperkirakan mencapai 5.000 unit, dan kapasitas produksi dalam satu tahun sekitar 60.000 unit.

Dia menuturkan bengkel untuk motor listrik tersebut telah disiapkan untuk Jakarta dulu. Suku cadang motor tersebut juga sudah disiapkan.

Nasir menuturkan awalnya Gesits akan dipasarkan di Jabodetabel karena harus menyiapkan stasiun-stasiun pengisian bahan bakar dengan bekerja sama dengan Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara.

Dia berharap ke depan listrik untuk motor Gesits dapat dihasilkan dari bahan bakar yang dapat diperbarui.

Nasir mengatakan harga motor Gesits bersifat kompetitif. Saat ini, motor listrik di Jepang dijual seharga Rp64 juta, sementara dengan harga itu, di Indonesia motor listrik dapat dibeli dengan jumlah 2-3 unit. (mar)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRADE

Mendag : Defisit Kuartal I Tunjukan Geliat Industri

Published

on

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita.

Ekbis.co.id, Tangerang – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tidak mengkhawatirkan defisit neraca perdagangan pada kuartal I 2019 sebesar 193,4 juta dolar AS mengingat impor didominasi oleh bahan baku industri, yang artinya industri dalam negeri tengah menggeliat.

“Defisit yang pada kuartal pertama ini, yang sekali lagi kami tidak terlalu khawatir karena impornya lebih banyak bahan baku, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan industri ini meningkat,” kata Mendag Enggartiasto saat menghadiri Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (16/4/2019).

Dengan situasi tersebut, lanjut Mendag, pertumbuhan industri meningkat baik dari sisi volume, kapasitas, maupun investasi baru, terutama industri yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus.

Dengan demikian, menurut Enggartiasto, defisit neraca perdagangan akan terjadi sesaat, namun akan meningkatkan ekspor di kemudian hari. “Karena yang didorong, selain infrastruktur juga banyak industri yang berorientasi ekspor,” ungkap Mendag.

Karena itu, industri akan menghasilkan barang yang mampu mensubtitusi barang impor, sekaligus berorientasi ekspor, yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap penurunan defisit neraca perdagangan. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRADE

Mendag : Ekspor Komoditas Mulai Bergeser ke Produk Manufaktur

Published

on

Ekbis.co.id, Tangerang – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa ekspor komoditas Indonesia mulai bergeser ke produk-produk manufaktur, yang mengindikasikan bahwa industri tumbuh pesat.

“Impor kita meningkat di bahan baku dan penolong. Para ekonom bilang defisit itu akibat masuknya bahan baku dan penolong. Itu positif karena artinya terjadi investasi yang marak di industri,” kata Mendag Enggartiasto saat menghadiri Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (15/4/2019).

Mendag menampik bahwa terjadi deindustrialisasi di Indonesia, mengingat dari data perdagangan yang ada, pertumbuhan ekonomi menunjukkan angka yang stabil dan ekspansif.

Menurut data Kemendag, 81 persen permintaan dunia kepada Indonesia merupakan barang manufaktur dan 19 persen komoditas primer.

Dalam hal ini, Mendag memaparkan bahwa Kemendag akan membidik target ekspor nonmigas naik 8 persen pada 2019 menjadi 175,8 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya yakni 162,8 miliar dolar AS.

Lima prioritas ekspor pada era Industri 4.0 yang diusung yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik dan kimia.

“Ekspor yang ingin kami kejar, bukan hanya industri besar, tapi juga industri kecil menengah (IKM). Ini beriringan dengan digital economy dan penjualan online,” kata Enggartiasto. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRADE

Hyundai Gandeng H2 Energy untuk Rajai Pasar Kendaraan Hidrogen

Published

on

Pabrikan mobil Korea Hyundai Motor membentuk usaha patungan dengan perusahaan energi Swiss, H2 Energy AG, untuk memenuhi ambisinya memimpin seluruh ekosistem mobilitas hidrogen.

Ekbis.co.id, Jakarta – Pabrikan mobil Korea Hyundai Motor membentuk usaha patungan dengan perusahaan energi Swiss, H2 Energy AG, untuk memenuhi ambisinya memimpin seluruh ekosistem mobilitas hidrogen yang sedang berkembang di kawasan Eropa.

Untuk memulai operasi usaha patungan, Hyundai Motor akan mengirimkan 1.600 truk tugas berat listrik fuel cell ke usaha patungan, Hyundai Hydrogen Mobility, dari 2019 hingga 2025, kata Hyundai Motor, dikutip Selasa (.

Perusahaan patungan itu kemudian akan menyewakan sebagian besar truk bertenaga sel bahan bakar ini kepada H2 Mobility Switzerland Association, yang terdiri dari operator stasiun pengisian bahan bakar utama, perusahaan transportasi dan logistik, serta berbagai pemain industri lain yang mempromosikan mobilitas hidrogen di Swiss.

Entitas bersama akan memperluas pasarnya ke negara-negara Eropa lainnya di luar Swiss.

Hyundai Hydrogen Mobility juga berencana untuk menembus pasar penjualan hidrogen melalui anak perusahaan yang memproduksi dan memasok hidrogen di Swiss, dengan prospek untuk memasuki negara-negara Eropa lainnya.

Dengan pembentukan Hyundai Hydrogen Mobility, Hyundai berharap untuk mendapatkan pijakan di Swiss, di mana permintaan untuk truk sel bahan bakar diperkirakan akan tumbuh cepat. Kebijakan pajak jalan nasional yang kaku untuk truk diesel di Swiss akan mendorong operator armada truk beralih ke kendaraan hidrogen yang nol emisi ini.

Dalam jangka panjang, Hyundai berencana untuk membangun posisi yang maju dan berkelanjutan di pasar kendaraan komersial sel bahan bakar listrik Eropa, karena semakin beradaptasi dengan mobilitas hijau di tengah peraturan ketat yang menargetkan emisi ramah lingkungan.

“Dengan perjanjian hari ini, Hyundai Motor akan memperkuat operasi bisnisnya di seluruh ekosistem hidrogen di Swiss dan sekitarnya. Usaha ini akan memungkinkan kami untuk mengambil langkah pertama menuju berhasil memasuki pasar Eropa yang lebih besar dengan truk listrik sel bahan bakar kami,” kata In Cheol Lee, Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Divisi Kendaraan Komersial di Hyundai Motor. (sur)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending