Connect with us

TRANS

PT KAI Aktif Kembali Layani Penumpang Stasiun Batang

Published

on

Bupati Batang Wihaji didampingi Wakil Bupati Suyono bersama organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan persiapan perjalanan menuju ke Stasiun Poncol Semarang dengan menggunakan KA Kaligung.

Ekbis.co.id, Batang – Perusahaan Terbatas Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang, Jawa Tengah, mulai aktif kembali melayani penumpang di Stasiun Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (15/3/2019), setelah empat tahun sebelumnya tidak dioperasionalkan.

Wakil Ketua DAOP 4 Semarang Danil di Batang, Jumat, mengatakan bahwa reaktivasi ini merupakan komitmen dan sinergitas Pemkab Batang dengan PT KAI bersama badan usaha milik negara (BUMN) untuk memberikan pelayanan publik transportasi di Stasiun Batang.

“Kami mencoba trial 6 kereta yaitu 4 KA Kaligung dan 2 Menoreh yang akan dievaluasi dan ditargetkan bisa mencapai 60 setiap hari,” katanya.

Ia mengatakan Stasiun Batang akan menyediakan loket pembelian tiket namun masyarakat disarankan membeli tiket melalui cara during (online) karena memang khusus KA Kaligung beroperasi mulai pagi hari dan biasanya tiket cepat habis.

Bupati Batang Wihaji mengatakan bahwa reaktivasi Stasiun Batang sudah lama ditunggu oleh masyarakat setempat karena sudah empat tahun tidak diaktifkan sebagai tempat pelayanan penumpang yang akan menggunakan jasa transportasi KA.

“Empat tahun sudah Stasiun Batang tidak aktif sebagaimana fungsinya namun mulai hari ini (Jumat) resmi direaktivasi. Tentunya, dengan beroperasinya kembali Stasiun Batang akan membantu masyarakat yang akan bepergian ke Semarang atau Jakarta,” katanya.

Sementara itu penumpang KA Rohyati mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Batang dan PT KAI yang telah kembali mereaktivasi Stasiun Batang.

“Kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih pada Pak Bupati Wihaji dan PT KAI yang telah mengaktifkan lagi layanan penumpang di Stasiun Batang,” katanya. (kut)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

TRANS

Peralihan Angkutan Barang ke KA Bisa Menghemat Hingga Rp3,5 Triliun Per Tahun

Published

on

Ketua Masyarakat Kereta Api (Maska) Hermanto Dwiatmoko.

Ekbis.co.id, Jakarta – Penghematan peralihan angkutan barang dari moda jalan raya ke jalur kereta api bisa mencapai Rp3,5 triliun per tahun, kata Ketua Masyarakat Kereta Api (Maska) Hermanto Dwiatmoko.

“Sebenarnya kita pernah menghitung kalau perpindahan jalan raya ke kereta api barang, misalnya satu juta TEUs bisa efisien Rp3,5 triliun per tahun,” kata Hermanto usai acara “Indonesia Railway Conference” di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Sementara itu, Hermanto menyebutkan biaya yang dibutuhkan untuk membangun jalur ganda, yaitu Rp11 triliun.

Artinya, biaya investasi tersebut bisa ditutupi dengan penghematan yang didapatkan dari pengangkutan barang dengan moda kereta api.

“Secara matematis, seharusnya bisa pindah semua,” katanya.

Namun, salah satu kendala pengangkutan barang dengan KA, yakni penanganan ganda (double handling) karena sifatnya tidak langsung dari pintu ke pintu (door to door) di mana masih dibutuhkan lagi pengangkutan dengan moda truk.

“Memang kelemahan kereta api itu adalah ‘double handling’,” katanya.

Dia menyebutkan perhitungan jarak antara 0-500 kilometer efisien menggunakan moda jalan raya, 500-1.500 kilometer kereta api dan lebih dari 1.500 kilometer menggunakan moda laut.

Berdasarkan data Maska, penggunaan kereta api penumpang masih sekitar tujuh persen, sementara KA barang baru 0,63 persen.

Sejumlah upaya agar pelaku usaha mau mengalihkan pengangkutan barang dari jalan raya ke kereta api, di antaranya memperluas jaringan KA, meningkatkan kapasitas dan mengurangi pajak, yaitu PPN.

Saat ini jaringan kereta api masih terbatas, hanya di Jawa dan Sumatera, untuk itu perlu ada kebijakan yang menyamakan contoh seperti pajak pertamabahan nilai atau PPN harus dinolkan.

“Kita sudah minta, tapi sampai sekarang tidak ada keputusan. Kalau memang pajak dikurangi kan memang susah. Tapi, kita enggak minta dikurangi, tapi disamakan pengenaannya. Kalau enggak dua-duanya, 10 persen ya enggak masalah,” katanya.

Terkait peningkatan kapasitas, lanjut dia, dengan pembangunan jalur ganda di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

“Sehingga ada ‘shifting’, tetapi tetap harus dilakukan regulasi perpajakan dan lainnya karena di jalan raya kemungkinan overload, sehingga bisa merusak jalan,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Perwakilan Union International Railway ASEAN, Milko Papazoff menilai secara porsi pengangkutan penumpang dan barang melalui kereta api kurang dibandingkan dengan negara tetangga, namun saat ini tengah berkembang, terutama dengan adanya MRT, LRT, serta Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan revitalisasi jalur KA Jakarta-Surabaya di masa mendatang.

“Saya rasa ini isu yang sama bagi semua negara, Indonesia saya bilang masih di belakang dalam hal transportasi perkotaan, tapi sedang berkembang,” katanya.

Milkof meyakini dengan peningkatan kapasitas yang terus bertumbuh di moda perkeretaapian, maka ke depannya perekonomian Indonesia akan semakin maju.

“Perkeretaapian membantu perekonomian suatu negara, cara terbaru untuk mengembangkan lagi teknologi dan fasilitas baru, lebih efisien, nyaman dan berkelanjutan. Memang cenderung lama dalam pembangunan tapi akan lebih efisien ke depannya,” katanya. (jtr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRANS

Tiket KA Lebaran 2019 di Daop Madiun Masih Tersedia

Published

on

Penjualan tiket Lebaran tahun 2019 di wilayah setempat masih tersedia bagi masyarakat yang hendak menggunakan moda transportasi kereta api saat mudik atau balik nanti.

Ekbis.co.id, Madiun – Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun Ixfan Hendriwintoko menyatakan penjualan tiket Lebaran tahun 2019 di wilayah setempat masih tersedia bagi masyarakat yang hendak menggunakan moda transportasi kereta api saat mudik atau balik nanti.

“Jika dari pantauan data “rail ticket sistem” (RTS) memang masih tersedia, namun itu hanya pada hari, tanggal, dan relasi tertentu,” ujar Ixfan kepada wartawan di Madiun, Selasa (19/3/2019).

Meski demikian, secara real untuk kereta-kereta dari arah barat (baik Jakarta atau Bandung) yang menuju ke Daop 7, penjualan tiket pada tanggal 26 Mei 2019 sampai dengan 7 Juni 2019 sudah diatas 98 persen. Contohnya, adalah KA Singasari.

“Tetapi dari arah sebaliknya, masih lumayan banyak. Khususnya KA yang kelas ekonomi,” kata dia.

Sedangkan, KA Brantas untuk relasi dari Stasiun Pasarsenen menuju Blitar sudah habis di tanggal 26-27 Mei 2019 dan tanggal 1-4 Juni 2019.

Selanjutnya KA Kahuripan relasi Kiaracondong-Blitar pada tanggal 26, 27, dan 31 Maret 2019 dan 1-12 Juni 2019 sudah ludes terjual.

Pantaun sementara untuk tiket KA lebaran di Daop 7 Madiun per 18 Maret 2019 Pukul 24.00 WIB, sudah sampai pada penjualan tiket (H+10) atau untuk keberangkatan tanggal 16 Juni 2019.

“Kami mengimbau kepada pelanggan KA, agar dapat merencanakan perjalanan mudiknya dengan baik. Beli tiket KA lebih awal guna mendapatkan tiket lebih dulu, dan bagi yg belum mendapatkan, silahkan nanti pada H-60 akan dibuka penjualan tiket KA tambahan,” katanya.

Adapun, tiket dapat dibeli melalui aplikasi KAI Access, web resmi PT KAI kai.id, CC121, atau channel eksternal lainya. KAI menetapkan masa angkutan Lebaran 2019 selama 22 hari, mulai dari H-10 (26 Mei 2019) sampai dengan H+10 (16 Juni 2019).(lrs)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRANS

YLKI : MRT Jakarta Minim Penanda dan Informasi

Published

on

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi.

Ekbis.co.id, Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai moda transportasi terbaru Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta masih minim adanya simbol penanda yang memberikan informasi dan edukasi pada penumpang.

“Di kabin kereta tidak ada penandaan sebagaimana penandaan di KRL Jabodetabek, seperti dilarang bersandar di depan pintu,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (mdg).

Tulus mengatakan penandaan dilarang makan dan minum di kereta atau di ruang tunggu juga belum terpasang. Padahal, di semua MRT dunia terdapat penandaan larangan makan dan minum.

Informasi, baik dengan suara atau tulisan, terkait buka-tutup pintu kereta juga tidak ada, padahal ini sangat penting bagi konsumen, apalagi jika penumpangnya penuh sesak.

Selain itu, Tulus juga menyoroti belum adanya penandaan terkait peta yang menggambarkan rute dan jaringan MRT, baik di stasiun dan atau kabin kereta.

Informasi rute jaringan angkutan umum sebagai pengumpan MRT, di masing-masing stasiun juga diperlukan agar konsumen tidak menggunakan transportasi penyambung setelah turun dari MRT.

Selain penandaan dan informasi, di dalam rangkaian kereta bernama Ratangga juga belum memiliki rak bagasi di dalam kabin kereta. Jika merujuk pada KRL Jabodetabek, terdapat rak bagasi, begitu juga MRT di Jepang.

“Memang MRT di Singapura tidak pakai rak bagasi. Ketika hal ini saya konfirmasi ke humas MRT Jakarta, space rak bagasi akan dipakai untuk iklan. Iklan boleh tapi jangan mengurangi hak dan kenyamanan konsumen. YLKI menyarankan rak bagasi tetap ada, walau mungkin tidak secara full,” katanya.

Kendati demikian, YLKI mengapresiasi adanya pintu pembatas sebelum penumpang naik/turun kereta. Pintu tersebut terbuka dan tertutup secara otomatis di semua ruang tunggu stasiun.

Dari sisi keselamatan, pintu pembatas ini sangat penting untuk menghindari adanya kecelakaan penumpang yang tersenggol/tertabrak MRT.

“Secara umum MRT Jakarta sudah bagus, baik infrastruktur stasiun, kabin kereta dan atau kualitas selama perjalanan, misalnya tidak berisik, dan kecepatan stabil. Kualitas pengereman juga nyaman. Kereta berhenti di stasiun selama 30 detik, dengan headway 5 menit

YLKI meminta managemen MRT Jakarta segera melengkapi dengan penandaan yang lebih informatif karena moda ini harus menjadi sarana transformasi dalam bertransportasi, bukan hanya sekadar mengangkut penumpang secara masal. (mdg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending