Connect with us

TRANS

Menteri PUPR : MRT Jakarta Tidak Kalah dengan Negara Lain

Published

on

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat mencoba MRT Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Ekbis.co.id, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan bahwa Moda Raya Transportasi (MRT) yang terdapat di Jakarta tidak kalah dengan berbagai moda sejenis yang terdapat di berbagai negara lainnya di luar negeri.

“Ternyata kita bisa, selama ini hanya mengagumi negara lain. Saya rasa kalau kita sungguh-sungguh pasti bisa. Mudah-mudahan kita semua sepakat bahwa kesan kita terhadap MRT ini,tidak kalah dibandingkan dengan MRT negara lain, seperti Singapura atau mungkin di Jepang,” kata Basuki Hadimuljono dalam rilis Kementerian PUPR yang diterima di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Menteri Basuki mengutarakan harapannya agar setelah beroperasi penuh, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya secara maksimal dan mulai beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

Ia mengakui bahwa mungkin manfaatnya belum akan terasa optimal karena saat ini baru terbangun sekitar 16 kilomter yaitu dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia dan sebaliknya.

“Nanti akan dilanjutkan fase 2 dari Bunderan HI sampai Kampung Bandan sepanjang 8 km sehingga total 24 km. Secara bertahap manfaatnya akan lebih terasa apabila rute Puri Kembangan sampai Bantar Gebang (Barat-Timur) sudah terealisasi,” ucapnya.

Selain itu, ujar dia, kehadiran MRT juga diharapkan akan dapat mengubah sikap dan perilaku warga pada umumnya dalam menjaga kebersihan dan ketertiban.

Kementerian PUPR juga akan mengembangkan hunian dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) di lahan milik Kementerian PUPR di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai keberadaan kereta MRT di DKI Jakarta akan mengubah peta properti komersial di Ibu Kota.

Usai menguji coba kereta MRT Jakarta dari Bundaran Hotel Indonesia ke Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (6/3), Sri Mulyani mengatakan nilai tawar hunian di sekitar rute MRT akan meningkat.

Sasaran tempat tinggal pun kini tidak hanya fokus di tengah kota, karena MRT menawarkan akses transportasi yang cepat dan nyaman dengan tarif cukup terjangkau hingga ke pinggiran kota.

“Orang tidak perlu beli apartemen di tengah kota atau tinggal di tengah kota. Dia bisa tinggal di Lebak Bulus yang dengan waktu tempuh 30 menit tanpa macet sampai ke kawasan Sudirman,” kata dia.

Selain itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga meyakini kegiatan ekonomi dan nilai properti di sekitar stasiun MRT akan meningkat.

Potensi ini juga, kata Sri Mulyani, telah disadari sejumlah perusahaan yang berlokasi di sekitar stasiun MRT. Di fase I, kereta MRT akan melewati 13 stasiun.

“Perusahaan-perusahaan swasta sudah meminta supaya stasiun MRT itu diberi nama perusahaannya. Itu berarti menimbulkan penerimaan,” katanya. (mrr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

TRANS

Peralihan Angkutan Barang ke KA Bisa Menghemat Hingga Rp3,5 Triliun Per Tahun

Published

on

Ketua Masyarakat Kereta Api (Maska) Hermanto Dwiatmoko.

Ekbis.co.id, Jakarta – Penghematan peralihan angkutan barang dari moda jalan raya ke jalur kereta api bisa mencapai Rp3,5 triliun per tahun, kata Ketua Masyarakat Kereta Api (Maska) Hermanto Dwiatmoko.

“Sebenarnya kita pernah menghitung kalau perpindahan jalan raya ke kereta api barang, misalnya satu juta TEUs bisa efisien Rp3,5 triliun per tahun,” kata Hermanto usai acara “Indonesia Railway Conference” di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Sementara itu, Hermanto menyebutkan biaya yang dibutuhkan untuk membangun jalur ganda, yaitu Rp11 triliun.

Artinya, biaya investasi tersebut bisa ditutupi dengan penghematan yang didapatkan dari pengangkutan barang dengan moda kereta api.

“Secara matematis, seharusnya bisa pindah semua,” katanya.

Namun, salah satu kendala pengangkutan barang dengan KA, yakni penanganan ganda (double handling) karena sifatnya tidak langsung dari pintu ke pintu (door to door) di mana masih dibutuhkan lagi pengangkutan dengan moda truk.

“Memang kelemahan kereta api itu adalah ‘double handling’,” katanya.

Dia menyebutkan perhitungan jarak antara 0-500 kilometer efisien menggunakan moda jalan raya, 500-1.500 kilometer kereta api dan lebih dari 1.500 kilometer menggunakan moda laut.

Berdasarkan data Maska, penggunaan kereta api penumpang masih sekitar tujuh persen, sementara KA barang baru 0,63 persen.

Sejumlah upaya agar pelaku usaha mau mengalihkan pengangkutan barang dari jalan raya ke kereta api, di antaranya memperluas jaringan KA, meningkatkan kapasitas dan mengurangi pajak, yaitu PPN.

Saat ini jaringan kereta api masih terbatas, hanya di Jawa dan Sumatera, untuk itu perlu ada kebijakan yang menyamakan contoh seperti pajak pertamabahan nilai atau PPN harus dinolkan.

“Kita sudah minta, tapi sampai sekarang tidak ada keputusan. Kalau memang pajak dikurangi kan memang susah. Tapi, kita enggak minta dikurangi, tapi disamakan pengenaannya. Kalau enggak dua-duanya, 10 persen ya enggak masalah,” katanya.

Terkait peningkatan kapasitas, lanjut dia, dengan pembangunan jalur ganda di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

“Sehingga ada ‘shifting’, tetapi tetap harus dilakukan regulasi perpajakan dan lainnya karena di jalan raya kemungkinan overload, sehingga bisa merusak jalan,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Perwakilan Union International Railway ASEAN, Milko Papazoff menilai secara porsi pengangkutan penumpang dan barang melalui kereta api kurang dibandingkan dengan negara tetangga, namun saat ini tengah berkembang, terutama dengan adanya MRT, LRT, serta Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan revitalisasi jalur KA Jakarta-Surabaya di masa mendatang.

“Saya rasa ini isu yang sama bagi semua negara, Indonesia saya bilang masih di belakang dalam hal transportasi perkotaan, tapi sedang berkembang,” katanya.

Milkof meyakini dengan peningkatan kapasitas yang terus bertumbuh di moda perkeretaapian, maka ke depannya perekonomian Indonesia akan semakin maju.

“Perkeretaapian membantu perekonomian suatu negara, cara terbaru untuk mengembangkan lagi teknologi dan fasilitas baru, lebih efisien, nyaman dan berkelanjutan. Memang cenderung lama dalam pembangunan tapi akan lebih efisien ke depannya,” katanya. (jtr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRANS

Tiket KA Lebaran 2019 di Daop Madiun Masih Tersedia

Published

on

Penjualan tiket Lebaran tahun 2019 di wilayah setempat masih tersedia bagi masyarakat yang hendak menggunakan moda transportasi kereta api saat mudik atau balik nanti.

Ekbis.co.id, Madiun – Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun Ixfan Hendriwintoko menyatakan penjualan tiket Lebaran tahun 2019 di wilayah setempat masih tersedia bagi masyarakat yang hendak menggunakan moda transportasi kereta api saat mudik atau balik nanti.

“Jika dari pantauan data “rail ticket sistem” (RTS) memang masih tersedia, namun itu hanya pada hari, tanggal, dan relasi tertentu,” ujar Ixfan kepada wartawan di Madiun, Selasa (19/3/2019).

Meski demikian, secara real untuk kereta-kereta dari arah barat (baik Jakarta atau Bandung) yang menuju ke Daop 7, penjualan tiket pada tanggal 26 Mei 2019 sampai dengan 7 Juni 2019 sudah diatas 98 persen. Contohnya, adalah KA Singasari.

“Tetapi dari arah sebaliknya, masih lumayan banyak. Khususnya KA yang kelas ekonomi,” kata dia.

Sedangkan, KA Brantas untuk relasi dari Stasiun Pasarsenen menuju Blitar sudah habis di tanggal 26-27 Mei 2019 dan tanggal 1-4 Juni 2019.

Selanjutnya KA Kahuripan relasi Kiaracondong-Blitar pada tanggal 26, 27, dan 31 Maret 2019 dan 1-12 Juni 2019 sudah ludes terjual.

Pantaun sementara untuk tiket KA lebaran di Daop 7 Madiun per 18 Maret 2019 Pukul 24.00 WIB, sudah sampai pada penjualan tiket (H+10) atau untuk keberangkatan tanggal 16 Juni 2019.

“Kami mengimbau kepada pelanggan KA, agar dapat merencanakan perjalanan mudiknya dengan baik. Beli tiket KA lebih awal guna mendapatkan tiket lebih dulu, dan bagi yg belum mendapatkan, silahkan nanti pada H-60 akan dibuka penjualan tiket KA tambahan,” katanya.

Adapun, tiket dapat dibeli melalui aplikasi KAI Access, web resmi PT KAI kai.id, CC121, atau channel eksternal lainya. KAI menetapkan masa angkutan Lebaran 2019 selama 22 hari, mulai dari H-10 (26 Mei 2019) sampai dengan H+10 (16 Juni 2019).(lrs)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TRANS

YLKI : MRT Jakarta Minim Penanda dan Informasi

Published

on

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi.

Ekbis.co.id, Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai moda transportasi terbaru Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta masih minim adanya simbol penanda yang memberikan informasi dan edukasi pada penumpang.

“Di kabin kereta tidak ada penandaan sebagaimana penandaan di KRL Jabodetabek, seperti dilarang bersandar di depan pintu,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (mdg).

Tulus mengatakan penandaan dilarang makan dan minum di kereta atau di ruang tunggu juga belum terpasang. Padahal, di semua MRT dunia terdapat penandaan larangan makan dan minum.

Informasi, baik dengan suara atau tulisan, terkait buka-tutup pintu kereta juga tidak ada, padahal ini sangat penting bagi konsumen, apalagi jika penumpangnya penuh sesak.

Selain itu, Tulus juga menyoroti belum adanya penandaan terkait peta yang menggambarkan rute dan jaringan MRT, baik di stasiun dan atau kabin kereta.

Informasi rute jaringan angkutan umum sebagai pengumpan MRT, di masing-masing stasiun juga diperlukan agar konsumen tidak menggunakan transportasi penyambung setelah turun dari MRT.

Selain penandaan dan informasi, di dalam rangkaian kereta bernama Ratangga juga belum memiliki rak bagasi di dalam kabin kereta. Jika merujuk pada KRL Jabodetabek, terdapat rak bagasi, begitu juga MRT di Jepang.

“Memang MRT di Singapura tidak pakai rak bagasi. Ketika hal ini saya konfirmasi ke humas MRT Jakarta, space rak bagasi akan dipakai untuk iklan. Iklan boleh tapi jangan mengurangi hak dan kenyamanan konsumen. YLKI menyarankan rak bagasi tetap ada, walau mungkin tidak secara full,” katanya.

Kendati demikian, YLKI mengapresiasi adanya pintu pembatas sebelum penumpang naik/turun kereta. Pintu tersebut terbuka dan tertutup secara otomatis di semua ruang tunggu stasiun.

Dari sisi keselamatan, pintu pembatas ini sangat penting untuk menghindari adanya kecelakaan penumpang yang tersenggol/tertabrak MRT.

“Secara umum MRT Jakarta sudah bagus, baik infrastruktur stasiun, kabin kereta dan atau kualitas selama perjalanan, misalnya tidak berisik, dan kecepatan stabil. Kualitas pengereman juga nyaman. Kereta berhenti di stasiun selama 30 detik, dengan headway 5 menit

YLKI meminta managemen MRT Jakarta segera melengkapi dengan penandaan yang lebih informatif karena moda ini harus menjadi sarana transformasi dalam bertransportasi, bukan hanya sekadar mengangkut penumpang secara masal. (mdg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending