Connect with us

AGROBISNIS

Pemprov Bali Berkomitmen Prioritaskan Peningkatan Kesejahteraan Petani

Published

on

Acara 'Pencanangan Gerakan Petani Milenial Provinsi Bali tahun 2019 menuju Lumbung Pangan Dunia tahun 2045', di Kabupaten Badung.

Ekbis.co.id, Badung – Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk memprioritaskan program pembangunan yang dapat meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani, kata
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardana.

“Itu merupakan salah satu misi utama dalam pola pembangunan semesta berencana Provinsi Bali di bawah pemerintahan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati,” kata Wisnuardana dalam ‘Pencanangan Gerakan Petani Milenial Provinsi Bali tahun 2019 menuju Lumbung Pangan Dunia 2045’, di Kabupaten Badung, Rabu (13/3/2019).

Untuk mendukung misi tersebut, telah ditetapkan Pergub No 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali yang mewajibkan pihak hotel, restoran, swalayan dan katering untuk memanfaatkan produk lokal Bali, baik produk pertanian, perikanan dan produk lokal lainnya.

Wisnuardana mengemukakan, Pergub 99/2018 ditetapkan sebagai regulasi untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan para petani yang notabene masih menjadi mata pencaharian sebagian besar dari penduduk Bali.

“Sekarang tantangan yang dihadapi semakin kompleks mulai dari alih fungsi lahan, persaingan pemasaran hingga keterbatasan SDM yang berkualitas. Pergub 99 juga sejalan dengan usaha untuk menarik kaum milenial agar mau jadi petani,” ucapnya.

Isi dari pergub itu, lanjut dia, akan terus disosialisasikan dan juga menjadi salah satu materi dalam bimbingan teknis bagi para petani milenial yang turut menjadi peserta kali ini.

“Salah satunya dengan pelatihan sistem teknologi informasi dan pemasaran berbasis online yang juga jadi salah satu bagian dari program kita untuk meningkatkan SDM petani terutama petani milenial kita,” ucapnya.

Wisnuardana mengatakan, sektor pertanian sejatinya adalah salah satu sektor pendorong pembangunan bidang ekonomi di Bali di samping sumber utama seperti pariwisata dan kerajinan. “Selain itu, pertanian juga punya peran penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pelestarian alam serta budaya di Bali,” ujarnya.

Selain penetapan Pergub No 99 tahun 2018, Pemprov Bali melalui Dinas TPHP juga memberikan subsidi pupuk organik yang dibuat oleh kelompok tani dan diberikan kembali kepada petani. “Selain itu, ditambah program dana Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK), berupa dana yang dapat diakses kelompok-kelompok tani dengan bunga sangat murah,” katanya.

Terkait program yang menyasar petani milenial, Wisnuardana menyebut program dari Kementerian Pertanian ini merupakan salah satu upaya yang sangat baik untuk menarik kaum milenial terjun ke sektor pertanian dan berkaitan erat pula dengan misi Pemprov Bali lewat diterbitkannya Pergub No. 99 tahun 2018.

“Pertanian jika ditekuni secara sungguh-sungguh akan memberikan keuntungan yang besar. Mudah-mudahan dengan bimbingan teknis serta akses permodalan serta bantuan subsidi, akan meningkatkan minat generasi milenial untuk terjun ke sektor pertanian,” ucap Wisnuardana.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro dalam kesempatan yang sama menyebut sektor pertanian banyak yang menganggap sebagai sektor yang terpinggirkan, apalagi dengan pertanyaan yang banyak diyakini yakni apakah dengan jadi petani bisa kaya?.

“Jawabannya tentu saja bisa, apalagi di Bali dimana pertanian bisa disinergikan dengan pariwisata sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan produktivitasnya. Ada link yang bisa menghubungkan petani dan pelaku pariwisata serta wisatawan agar produk hasil pertanian bisa diserap oleh sektor pariwisata,” ujar Syukur

Pada 2019 ini menurut Syukur juga akan dicanangkan menjadi tonggak alih generasi petani di Indonesia dengan program-program yang ditujukan untuk regenerasi profesi petani kepada kaum milenial. “Ini tantangan kita ke depan termasuk untuk para petani di Bali,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang petani yang juga pengusaha beras organik asal Penebel, Tabanan, Wayan Suka Arta mengapresiasi langkah Pemerintah Bali yang ingin menyinergikan antara industri pariwisata dengan pertanian mengingat selama ini petani lokal Bali seperti kurang mendapatkan imbas dari manisnya industri pariwisata yang menghasilkan begitu banyak manfaat ekonomi bagi para pelakunya.

“Untuk itu dengan kewajiban bagi para pelaku industri pariwisata, termasuk restoran, swalayan dan catering, tentu ada semacam kepastian bagi petani untuk menjual hasil pertaniannya. Tinggal sekarang harus ada standardisasi komoditas yang dihasilkan agar bisa diterima oleh industri pariwisata karena seperti hotel misalnya, tentu punya standar tersendiri untuk komoditas yang diserap,” ujar Suka Arta.

Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan 453 Gabungan Kelompok Tani dari tujuh kabupaten se-Bali yang nantinya punya tugas untuk meneruskan pemaparan dan bimbingan teknis kepada lebih dari 12 ribu petani milenial di seluruh penjuru Bali. (nlr)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AGROBISNIS

Ekspor Kopi Aceh Triwulan I Tembus 311,04 Persen

Published

on

Ekspor Kopi Aceh sudah menembus angka 311,04 persen dengan nilai 22,86 juta dolar AS jika dibanding periode yang sama di tahun 2018.

Ekbis.co.id, Banda Aceh – Nilai ekspor kopi yang tumbuh di kawasan dataran tinggi wilayah Tengah Aceh triwulan I di 2019 sudah menembus angka 311,04 persen dengan nilai 22,86 juta dolar AS jika dibanding periode yang sama di tahun 2018.

“Ekspor kopi asal Aceh di bulan Maret 2019 saja total 7,85 juta dolar AS, jika digabungkan dalam tiga bulan terakhir menjadi 22,86 juta dolar AS,” terang Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, Kamis (23/5/2019).

Ia menyebut ekspor kelompok kopi tergabung komoditas teh, dan rempah-rempah tersebut asal provinsi berjuluk “Serambi Mekkah” ini di periode Januari-Maret 2019 tercatat senilai 5,56 juta dolar AS lebih.

Bahkan komoditas yang telah diekspor ke-17 negara dan semakin disukai penikmatnya telah memberi andil 30,41 persen, setelah batubara Aceh senilai 40,05 juta dolar AS atau mempunyai andil 53,28 persen dari total nilai ekspor 75,18 juta dolar AS lebih.

Meningkatnya nilai ekspor kopi ini terutama jenis Arabika, karena dunia internasional semakin meminati kopi yang sebagian besar diekspor, dalam bentuk biji, tidak dipanggang dan tidak dihilangkan kandungan kafeinnya.

“Sayangnya di triwulan itu, kegiatan ekspor kopi dilakukan melalui pelabuhan luar Aceh. Seperti Pelabuhan Belawan di Medan, Sumut, mayoritas negara tujuan ekspor kopi adalah Amerika Serikat,” katanya.

Ia mengatakan sedangkan melalui pelabuhan di provinsi paling barat Indonesia ini belum tercatat sama sekali di antara lima kelompok komoditas dengan nilai triwulan tahun ini total tercatat 44,88 juta dolar AS lebih.

“Nilai komoditas asal Aceh diekspor melalui pelabuhan di Aceh, yakni bahan bakar mineral atau batubara 40,05 juta dolar AS memberi andil 89,23 persen, dan menyusul bahan kimia anorganik 4,35 juta dolar AS dari total nilai ekspor 44,88 juta dolar AS,” kata Wahyudin.

Presiden Joko Widodo tahun 2018 mengatakan, ekspor dan investasi menjadi dua hal penting atau kunci dalam memperkuat fundamental perekonomian Indonesia.

“Kalau itu bisa kita lakukan, ekspornya meningkat, sehingga defisit neraca perdagangan bisa kita selesaikan. Defisit transaksi berjalan kita bisa kita selesaikan,” kata Jokowi. (muh)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Harga Cabai Rawit di Raja Ampat Tembus Rp130.000

Published

on

Harga cabai rawit di Raja Ampat, Papua Barat, mengalami kenaikan Rp130.000 dari harga sebelumnya Rp60.000 per kilogram akibat stok berkurang.

Ekbis.co.id, Waisai – Harga cabai rawit di pasar tradisional Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, mengalami kenaikan Rp130.000 dari harga sebelumnya Rp60.000 per kilogram akibat stok berkurang.

Pedagang di Pasar Waisai Raja Ampat, Kamis (23/5/2019), menawarkan satu kilogram cabai rawit seharga Rp130.000 atau naik Rp70.000 dari harga sebelumnya Rp60.000 per kilogram.

Seorang pedagang Pasar Waisai Raja Ampat, Tambrin (32), mengaku menjual cabai rawit seharga Rp130.000 per kilogram karena harga di tingkat agen dan petani naik.

Menurut dia, cabai rawit yang dijual pasar tradisional waisai didatangkan dari Sorong baik dari petani Kabupaten Sorong maupun agen yang mendatangkan dari luar Kota Sorong.

Karena itu, jika stok cabai rawit di pasar Waisai berkurang maka pedagang menaikkan harga dan itu adalah bagian dari hukum ekonomi. Jika stok terbatas permintaan tinggi maka harga pasti naik.

Ia mengungkapkan harga cabai rawit naik hingga Rp130.000 tidak mempengaruhi warga waisai Raja Ampat. Warga tetap membeli cabai dengan sedemikian rupa.

“Cabai keriting tidak mengalami perubahan harga karena stok melimpah sehingga harga tetap stabil Rp60.000 per kilogram,” ujarnya. (ebk)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

AGROBISNIS

Peminat Ikan Bandeng Tinggi Jadi Pemicu Inflasi

Published

on

Ikan bandeng menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi di Sulawesi Selatan pada Mei 2019.

Ekbis.co.id, Makassar – Peminat ikan bandeng (bolu) di Makassar, Sulawesi Selatan, cukup tinggi selama bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah sehingga ikan bandeng menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi di Sulawesi Selatan pada Mei 2019.

“Alhamdulillah selama Ramadhan ini, pembeli ikan bandeng sangat tinggi, sehingga biasanya kami hanya menjual satu box ikan per hari, kini menjadi dua box per hari,” kata salah seorang pedagang ikan H Thamrin di pusat pelelangan ikan bolu Jalan Langgau, Makassar, Kamis (23/5/2019).

Hal senada dikemukakan pedagang ikan bolu di TPI Paotere H Iwan. Menurut dia, harga ikan bolu yang semula dijual Rp20 ribu per tiga ekor ukuran sedang, selama Ramadhan rata-rata dijual Rp20 ribu per dua ekor dengan ukuran yang sama.

“Hal ini karena ikan yang diperoleh dari pedagang juga naik, sehingga kami harus menyesuaikan harga,” katanya.

Selain ikan bandeng yang banyak diminati warga Kota Makassar dan sekitarnya sebagai konsumsi di bulan suci Ramadhan, ikan cakalang (tuna) juga mengalami peningkatan pembelian di TPI Paotere.

Menurut pedagang ikan tuna, Mansyur yang berjualan setiap pagi dan sore di TPI Paotere, Makassar, meskipun peminat ikan tuna tinggi tetapi harga masih cukup stabil, karena banyaknya stok hasil tangkapan nelayan setiap hari.

“Untuk ikan tuna ukuran sedang rata-rata dijual Rp50 ribu untuk enam ekor atau satu tempat (gompo). Sedang ikan tuna ukuran besar Rp100 ribu untuk empat ekor,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel pekan lalu , kontribusi beras dan ikan bandeng/bolu terhadap inflasi masing-masing 29, 55 persen dan 3,69 persen untuk wilayah pedesaan dan wilayah perkotaan 3,25 persen. (sur)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending