Connect with us

LABOUR

Making Indonesia 4.0 Siapkan SDM Teknologi Digital

Published

on

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar.

Ekbis.co.id, Jakarta – Peta jalan Making Indonesia 4.0 menjadi arah dan strategi yang jelas dalam upaya mengembangkan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global pada era digital dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten di bidang teknologi digital

“Nah, SDM industri berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional karena tenaga kerja di sektor manufaktur menyumbang cukup besar terhadap total pekerja di Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar lewat keterangannya di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Haris menegaskan, SDM terampil menjadi salah satu kunci utama dalam mendongkrak kemampuan industri, selain melalui investasi dan teknologi.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki modal besar dari ketersediaan SDM produktif karena sedang menikmati masa bonus demografi hingga tahun 2030.

Pada 2018, tenaga kerja industri manufaktur berkontribusi sebesar 14,72 persen terhadap total tenaga kerja nasional.

Berdasarkan catatan Kemenperin, selama periode empat tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor industri terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, industri membuka lapangan kerja sebanyak 15,54 juta orang, kemudian naik di tahun 2016 menjadi 15,97 juta orang.

Pada 2017, sektor manufaktur menerima tenaga kerja hingga 17,56 juta orang dan melonjak pada 2018 menjadi 18,25 juta orang.

Sejak 2015 ke 2018, terjadi kenaikan 17,4 persen dan ini diperkirakan bisa menambah lagi penyerapan tenaga kerjanya di tahun 2019 seiring dengan realisasi investasi dari sejumlah perusahaan.

Oleh karena itu, SDM industri perlu didorong untuk memanfaatkan teknologi terkini agar dapat memacu produktivitas dan inovasi.

Lima teknologi digital sebagai fundamental dalam kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0, di antaranya artificial intelligence, internet of things, wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, serta 3D printing.

“Jadi, dengan program Making Indonesia 4.0, kami menyiapkan SDM industri yang kompeten dengan teknologi digital sehingga kegiatan produksi semakin efisien, produktif, dan inovatif. Ini tentunya akan mendongkrak daya saing manufaktur kita di pasar domestik hingga global,” paparnya. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

LABOUR

Indonesia Siap Pasok SDM untuk Industri Jepang

Published

on

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto.

Ekbis.co.id, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten untuk bekerja di Negeri Sakura.

Ini sebagai bagian dari respons terhadap regulasi mengenai visa kerja baru untuk tenaga kerja asing di Jepang pada 14 sektor bidang usaha, yang mulai berlaku pada 1 April 2019.

“Kami tentunya menyambut baik adanya peraturan tersebut. Ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia yang sedang menggalakkan program peningkatan kualitas SDM melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi industri,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto lewat keterangannya di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Harjanto menyampaikan hal itu setelah bertemu dengan perwakilan dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Perindustrian (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI) Jepang, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, serta Japan External Trade Organization (JETRO), beberapa waktu lalu.

“Kami berharap SDM industri Indonesia bisa dapat pengalaman kerja di industri Jepang. Ini sebagai wujud transfer pengetahuan,” imbuhnya.

Harjanto menjelaskan Kemenperin mempunyai sejumlah program pendidikan dan pelatihan vokasi industri guna menghasilkan tenaga kerja terampil yang sesuai kebutuhan perusahaan saat ini, terutama dalam kesiapan memasuki era Industri 4.0.

Harjanto optimistis SDM industri Indonesia akan menjadi pilihan terbaik bagi sejumlah industri di Jepang. “Sebab, SDM industri Indonesia terkenal sangat cocok bekerja di Jepang mengingat karakter masyarakat Indonesia yang selalu fokus, sopan, serta respect,” ungkapnya.

Ikeda mewakili METI menerangkan selama ini permasalahan kekurangan tenaga kerja di Jepang sangat terbantu dengan adanya program pemagangan, termasuk peserta pemagangan dari Indonesia.

Namun, lanjutnya, jika mengandalkan dari peserta magang, tentu tidak bisa mencukupi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Dengan diberlakukannya visa kerja baru, peserta magang yang telah menyelesaikan programnya berkesempatan untuk bekerja di Jepang dengan visa kerja keterampilan khusus.

Dalam skema visa kerja Tokuteiginou, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari peserta magang yang telah kembali ke Indonesia.

Selain itu, ada juga jalur melalui pemegang visa pendidikan (ryugakusei), atau tenaga kerja baru yang belum pernah bekerja di Jepang, namun mempunyai kemampuan bahasa dan tingkat keterampilan (skill) yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jepang.

“Kami berharap untuk sourcing yang terakhir ini, ujian keterampilan bisa dilaksanakan di Indonesia dengan standar yang ditetapkan sesuai kebutuhan industri di Jepang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Ikeda, Jepang merasa perlu berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia agar skema visa kerja baru tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan bermanfaat bagi berbagai pihak. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LABOUR

Empat strategi Kemenperin bangun SDM industri kompeten

Published

on

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian memiliki empat strategi yang akan dilakukan tahun ini untuk mendukung program pembangunan sumber daya manusia bidang industri yang kompeten.

“Dengan alokasi anggaran sebesar Rp1,78 triliun, strategi pertama adalah membangun pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi menuju dual system yang diadopsi dari Swiss dan Jerman,” kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar lewat keterangannya di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Saat ini, Kemenperin memiliki 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 10 politeknik, dan 2 akademi komunitas.

Unit pendidikan vokasi ini sudah link and match dengan industri, sehingga semua lulusan terserap kerja dengan waktu maksimal enam bulan setelah wisuda.

Strategi kedua adalah pembangunan politeknik dan akademi komunitas di kawasan industri.

“Kami telah membangun Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Politeknik Industri Logam di kawasan industri Morowali, Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, dan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal,” sebut Haris.

Tahun ini, Kemenperin memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Petrokimia di Cilegon, Banten dan Politeknik Industri Agro di Lampung. Strategi ketiga, yaitu meluncurkan pendidikan vokasi “link and match” antara SMK dengan industri. Program yang dimulai sejak tahun 2017 ini telah menjangkau wilayah Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

“Hingga tahap kesembilan, kami telah melibatkan sebanyak 2.350 SMK dan 899 perusahaan dengan total perjanjian kerja sama mencapai 4.351 yang telah ditandatangani. Program ini juga mendorong peningkatan kompetensi guru produktif dan fasilitasi silver expert untuk SMK,” tuturnya.

Strategi keempat, yakni pelaksanaan pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem “3 in 1” yaitu pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja. Program ini dapat dimanfaatkan bagi para penyandang disabilitas.

“Melalui upaya Making Indonesia 4.0, kita akan merevitaslisasi sektor manufaktur dan diharapkan akan bisa meraih nilai net ekspor seperti tahun 2000 lalu, yakni mencapai angka 10 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), lalu meningkatkan produktivitas, dan membangun kemampuan inovasi lokal,” terangnya. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LABOUR

Kembangkan SDM Ekonomi Digital, Pemerintah Gandeng Tokopedia, Bukalapak, Gojek

Published

on

Deputi Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian, M Rudy Salahuddin.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bekerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan tiga perusahaan rintisan (start-up) berlevel “unicorn” menyusun skema untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang ekonomi digital khususnya pelaku usaha kecil dan menengah.

“Saat ini, pemerintah tidak lagi bertindak sebagai regulator, namun akan lebih berfungsi sebagai fasilitator dan akselerator. Hal tersebut akan memberikan ruang bagi tumbuhnya inovasi,” kata Deputi Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian M Rudy Salahuddin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Pada Rabu ini, Rudy menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) program kemitraan ekonomi umat dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah dengan Wakil Ketua Umum Bidang Usaha Kecil dan Menengah dan Koperasi Kadin Muhammad Lutfi dan pimpinan tiga perusahaan “unicorn”, yang memiliki valuasi nilai hingga satu miliar dolar AS, yakni Tokopedia, Bukalapak, dan Gojek.

Peningkatan kualitas SDM ini, kata Rudy, memang menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah sejak 2018.

“Bersama Menko Perekonomian, kami berikan kemudahan pajak melalui sistem online single submission (OSS). Selain itu, pemerintah juga mendukung pembangunan sumber daya manusia, yakni berupa peningkatan adopsi dan literasi digital, peningkatan dan penyesuaian keahlian (skills), serta pengembangan pelaku usaha,” kata dia.

Rudy mengatakan kehadiran revolusi industri 4.0 tidak hanya memunculkan banyak peluang tetapi juga tantangan dan disrupsi dalam tatanan pasar tenaga kerja.

Perkembangan intelegensi artifisial yang dapat menggantikan pekerjaan manusia menjadi tantangan tersendiri yang perlu segera ditangani dengan melaksanakan program-program peningkatan kualitas SDM.

Upaya peningkatan kualitas SDM, kata Rudy, akan berdampak pada perkembangan ekonomi digital yang juga akan mendorong pemerataan manfaat ekonomi yang menyeluruh.

“Berkembangnya aplikasi marketplace misalnya, memiliki kontribusi besar untuk mengurangi angka pengangguran, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan inkusivitas keuangan,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani meminta para pengusaha untuk cepat beradaptasi agar usaha yang dijalankan tetap berkelanjutan sesuai perkembangan tren perekonomian saat ini.

“Bertumpu kepada potensi yang ada, pengusaha harus selalu melakukan antisipasi terhadap tren perubahan yang akan terjadi, mengembangkan inovasi-inovasi baru dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, dan melakukan kolaborasi agar bisnis yang dijalankan menjadi lebih efektif dan efisien,” katanya. (iap)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending