Connect with us

INDUSTRI

Kemenperin Pacu Ekspor Lima Sktor Industri

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian memacu ekspor lima sektor industri industri yang pertumbuhannya di atas lima persen dan memiliki catatan kinerja ekspor gemilang di tahun 2018.

“Kami sedang fokus memacu kinerja ekspor di lima sektor industri yang mendapat prioritas pengembangan berdasarkan Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangannya di Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Adapun kelima industri tersebut yakni industri makanan dan minuman yang nilai ekspornya mencapai 29,91 miliar dolar AS, disusul industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 13,27 miliar dolar AS, serta industri logam dasar 15,46 miliar dolar AS.

Lima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronika, dan kimia. Apalagi, lima kelompok manufaktur tersebut mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total nilai ekspor nasional.

Sepanjang tahun 2018, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, menorehkan nilai ekspornya sebesar 13,93 miliar dolar AS, kemudian ekspor kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, dan alat angkutan lainnya menembus angka 8,59 miliar dolar AS, serta pengapalan barang komputer, barang elekronik dan optik mencapai 6,29 miliar dolar AS.

“Memang ada beberapa sektor lain yang juga punya potensi besar dalam menopang perekonomian nasional melalui kinerja ekspornya. Misalnya, industri perhiasan, permesinan, furnitur, pengolahan ikan, dan hortikultura,” sebutnya.

Pada 2019, pemerintah menargetkan ekspor nonmigas tumbuh 7,5 persen. Proyeksi tersebut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7 persen.

Adapun tiga pasar ekspor utama, yakni Amerika Serikat, Jepang, dan China. Penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional juga dilakukan, seperti ke Bangladesh, Turki, Selandia Baru, Myanmar dan Kanada.

“Meski demikian, diharapkan ada perbaikan ekonomi global, sehingga bisa mendorong ekspor nonmigas lebih tinggi lagi di tahun 2019,” tutur Airlangga.

Pemerintah juga menargetkan segera merampungkan sebanyak 12 perjanjian dagang baru pada tahun ini. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

INDUSTRI

Kemenperin : Industri Tak Terdampak Aksi Massa

Published

on

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar.

Ekbis.co.id, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan bahwa belum terlihat dampak dari aksi massa yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 terhadap aktivitas industri nasional.

“Karena baru berlangsung, jadi dampaknya belum terlihat,” kata Haris melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Haris meyakini, gejolak politik segera mereda dan aktivitas industri akan berjalan sebagaimana biasanya. “Nampaknya gejolak politik segera mereda, jadi belum ada langkah-langkah lain,” tukas Haris.

Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor sehingga kinerja investasi di Indonesia yang sudah baik akan semakin meningkat, dan tentunya investasi existing dapat lebih berdaya saing.

Kementerian Perindustrian mencatat, pada 2017, total investasi (PMA dan PMDN) di sektor industri mencapai Rp274,06 triliun atau berkontribusi sebesar 39,6 persen dari total investasi di Indonesia sebesar Rp692,8 triliun.

Nilai investasi terbesar yang disumbangkan oleh sektor manufaktur, antara lain dari industri makanan sebesar Rp64,74 triliun, industri logam, mesin dan elektronik Rp64,10 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp48,03 triliun.

Kemenperin memproyeksikan, investasi sektor industri pada tahun 2018 akan mencapai Rp352,16 triliun dan menjadi Rp387,57 triliun pada 2019.

Terkait dampak positif terhadap pertumbuhan industri, total tenaga kerja yang terserap pada 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibanding 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Akuisisi Holcim, Semen Indonesia Optimis Bisa Jualan Lebih Gampang

Published

on

Semen Indonesia Tbk (SMGR) optimis penjualan semen bisa jauh lebih agresif pasca akuisisi saham mayoritas Holcim Indonesia.

Ekbis.co.id, Jakarta – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) optimis penjualan semen bisa jauh lebih agresif pasca akuisisi saham mayoritas Holcim Indonesia. Lewat anak usahanya, PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIBB) saat ini menguasai 80,6% saham di Holcim.

Direktur Pemasaran & Supply Chain Semen Indonesia, Adi Munandir, mengatakan kalau masuknya Holcim dalam holding akan membuka pasar baru yang jauh lebih luas. Selain itu, efisiensi dalam operasi dan pemasaran juga sangat signifikan setelah proses integrasi aset-aset eks Holcim rampung.

“Akuisisi Holcim itu menambah kapasitas (produksi) 14 juta ton. Harapannya pasti penjualan meningkat, tapi itu tergantung demand yang ada. Dengan optimalisasi dari dua perusahaan yang sudah ada dan sinergi lewat akuisisi, kita bisa create pasar baru berdasarkan program-program yang sudah kita susun,” terang Adi usai RUPS di Hotel Sheraton, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Saat diakuisisi, Holcim mengoperasikan empat pabrik semen di Narogong (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Tuban (Jawa Timur), dan Lhoknga (Aceh), dengan total kapasitas 14,5 juta ton semen per tahun, dan mempekerjakan lebih dari 2,400 orang.

Efisiensi, sambung Adi, baru akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan. Selain integrasi pabrik, Holcim memiliki puluhan pabrik pengemasan dan distribution center yang akan membuat pemasaran semen bisa menjadi sangat murah dan penetrasi pasar bisa lebih efektif.

“Setelah akuisisi Holcim, kita integrasikan plant, distribution center ada 20 unit, dan packing plant yang jumlahnya 36 unit. Kita sedang melakukan re-modelling sehingga bisa melayani pasar-pasar dengan cost yang paling efisien. Kita memperbaiki tak hanya kinerja (produksi) saja, tapi juga dari sisi efisiensi di supply chain, penjualan, dan pemasaran,” ungkap Adi.

Sebagai informasi, Semen Indonesia telah merampungkan proses pengambialihan saham PT Holcim Indonesia Tbk pada 31 Januari lalu. Semen Indonesia membeli 6.179.612.820 saham Holcim dengan harga Rp 2.097 per lembar. Sehingga, total harga pembelian 80,64% saham itu senilai Rp 12,9 triliun.

Tujuan pengambilalihan saham Holcim antara lain untuk memperluas jaringan pabrik semen di dalam negeri, memperluas diversifikasi jenis produk yang ditawarkan, meningkatkan efisiensi, khususnya biaya distribusi dan bahan baku.

Kemudian memperkuat posisi bisnis ready mix dengan berbagai variasi produk dan solusi, serta memperkuat sinergi di berbagai bidang untuk meningkatkan efisiensi. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Tambah Lima Pabrik, Sariguna Primatirta Siapkan Investasi Rp300 Miliar

Published

on

Jajaran direksi PT Sariguna Primatirta Tbk, usai paparan publik di hotel Vasa Surabaya Rabu (22/05/2019)

Ekbi.co.id, Suarabaya – Perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK), PT Sariguna Primatirta Tbk berencana menambah lima pabrik baru tahun ini. Kelima pabrik tersebut berlokasi di Sukabumi, Bali, Singosari, Kediri dan Prigen. Total investasi yang digelontokan untuk lima pabrik tersebut mecapai Rp300 miliar.

Direktur Operasional PT Sariguna Primatirta Tbk Nio Eko Susilo mengatakan, dengan penambahan lima pabrik tersebut, maka total jumlah pabrik produsen air minum merek Cleo ini sebanyak 27 unit. Kelima pabrik tersebut ditargetkan akhir tahun ini sudah bisa beroperasi.

“Nilai investasi yang kami kucurkan memang cukup besar. Ini karena mesin yang kami beli merupakan mesin canggih. Permintaan pasar Cleo saat ini cukup tinggi. Sehingga kami harus cepat memenuhi permintaan pasar tersebut,” ujar Nio dalam Public Expose PT Sariguna Primatirta Tbk, Rabu (22/5/2019).

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan Sariguna Primatirta, selama 2018, emiten berkode saham CLEO itu mencatat penjualan sebesar Rp831,10 miliar. Kemudian laba bersih sebesar Rp63,62 miliar. Penjualan bersih tersebut meningkat 35,21% dibanding 2017 yang sebesar Rp614,677 miliar.

Segmen botol berkontribusi 37,02% terhadap total penjualan. Diikuti galon 34,80%, gelas 27,85% dan lain-lain sebesar 0,32%. Penjualan di segmen botol selama 2018 mencapai Rp307,67 miliar. Di segmen galon, sebesar Rp289,26 miliar dan gelas Rp231,48 miliar.

Sedangkan lain-lain menjadi Rp2,69 miliar. Sedangkan selama triwulan I 2019, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp223,5 miliar, tumbuh 37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp162,5 miliar. Laba bersih tercatat Rp25,2 miliar atau tumbuh 101%dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12,5 miliar. “Tahun ini kami menargetkan penjualan sebesar Rp1,2 triliun dan untuk laba kami harapkan bisa tumbuh sama seperti capaian di triwulan I,” tandas Nio.

Direktur Penjualan dan Distribusi PT Sariguna Primatirta Tbk Toto Sucartono optimistis target penjualan tahun ini akan tercapai. Hal ini karena selama triwulan I penjualan cukup positif. Padahal, pada triwulan I merupakan masa sulit bagi produsen AMDK. Sebab, saat itu adalah musim penghujan. “Pada musim penghujan saja penjualan bagus, apalagi pada musim kemarau,” imbuhnya. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending