Connect with us

INDUSTRI

Menteri BUMN Dorong Pemkab Batang Kembangkan Industri

Published

on

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini Soemarno.

Ekbis.co.id, Batang – Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mendorong Pemerintah Kabupaten Batang mengembangkan industri di daerah itu karena dengan dibangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 X 1.000 megawatt akan memberikan pasokan listrik yang cukup bagi
perusahaan-perusahaan.

“Ini kesempatan besar bagi Kabupaten Batang untuk memanfaatkan supaya industri dapat berkembang karena pasokan listriknya cukup sekaligus memberikan peluang kesempatan tenaga kerja bagi warga di daerah,” katanya saat berkunjung ke proyek PLTU Kabupaten Batang, Selasa sore (4/12/2018).

Ia mengatakan proses pembangunan PLTU memang cukup berat karena tertahan banyak hal, seperti pembebasan tanah yang mengalami banyak penolakan warga.

“Sebenarnya proyek ini (PLTU, red.) sudah diproses jauh lama sebelum Bapak Presiden Joko Widodo memimpin. Akan tetapi karena saat itu (pembangunan PLTU, red.) banyak tertahan banyak hal maka Presiden berkunjung ke Jepang dan dilakukan penandatangan dengan Bhimasena Power Indoensia (BPI) dan J. Power untuk meneruskan pembangunannya (PLTU),” katanya.

Kendati demikian, kata dia, setelah melalui proses pembangunan yang cukup berat, progres pembangunannya cukup membanggakan, yaitu mencapai 63 persen.

“Kami menerima laporan dari Direktur (BPI) pada 2019, sebanyak 1.000 megawatt rencananya pada Oktober 2019 sudah bisa ‘testing’ (diujicobakan) operasional untuk Jawa dan Bali,” katanya.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Sofyan Basir mengatakan sesuai program Presiden Jokowi yang ingin menyediakan pasokan listrik 35 ribu megawatt, Kabupaten Batang salah satu daerah yang masuk pada program itu.

“Alhamdulillah progres PLTU Batang kini sudah mencapai 63 persen. Semoga pada 2020, (pasokan listrik, red.) 1.000 megawatt sudah masuk karena persiapan sudah jadi baik jetty dan transmisi. Karena itu, kita tidak perlu khawatir di Jawa akan kekuarangan pasokan listrik, pasti akan cukup” katanya.

Ia mengatakan untuk kebutuhan listrik di Jawa diperkirakan mencapai sekitar 13 ribu megawatt.

“Ke depan, pasokan listrik untuk di Jawa dan Bali, setelah pembangunan PLTU Batang selesai maka pasokan listrik dijamin cukup,” katanya. (kut)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

INDUSTRI

Menperin : Delapan Kawasan Industri di Luar Jawa Siap Beroperasi

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Businesstoday.id, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sebanyak delapan kawasan industri di luar Pulau Jawa siap beroperasi, karena sudah pada tahap konstruksi.

Sementara, 10 kawasan industri di luar Jawa lainnya masih tahap perencanaan dan akan terus digenjot agar bisa segera beroperasi.

“Delapan kawasan industri yang akan beroperasi pada tahun 2019, yaitu di Tanjung Buton, Landak, Lhokseumawe, Maloy, Ladong, Medan, Tanah Kuning, dan Bitung,” kata Airlangga melalui keterangannya di Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Sedangkan, 10 kawasan industri yang masih tahap perencanaan, yakni di Kuala Tanjung, Kemingking, Tanjung Api-api, Gandus, Tanjung Jabung, Tanggamus, Batulicin, Jorong, Buli dan Teluk Bintuni.

Kemenperin mencatat, sampai November 2018, telah beroperasi 10 kawasan industri yang termasuk proyek strategis nasional (PSN).

Ke-10 kawasan industri tersebut berlokasi di Morowali, Bantaeng, Konawe, Palu, Sei Mangkei, Dumai, Ketapang, Gresik, Kendal, dan Banten.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN, terdapat 23 kawasan industri yang ditetapkan sebagai PSN.

“Pengembangan kawasan industri menjadi perhatian utama pemerintah karena mampu mewujudkan perekonomian yang inklusif dan Indonesia sentris,” tutur Menperin.

Airlangga menjelaskan, kawasan industri di Jawa akan difokuskan pada pengembangan jenis industri tertentu, sedangkan di luar Jawa diarahkan pada industri berbasis sumber daya alam dan pengolahan mineral.

Diproyeksikan, bisa terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60 persen dibanding Jawa.

Airlangga menambahkan, pembangunan kawasan industri diyakini pula dapat meningkatkan nilai investasi di Indonesia.

“Dengan berdirinya pabrik akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Ini salah satu bukti dari ‘multiplier effect’ (dampak berantai) aktivitas industrialisasi,’ terangnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin selama periode 2015-2017, sektor manufaktur yang telah menanamkan modalnya di seluruh kawasan industri di Indonesia mencapai Rp126,5 triliun.

Investasi selama tiga tahun tersebut terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp103 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp23,5 triliun.

Di samping itu, Menperin menyampaikan, pihaknya bertekad memfasilitasi pembangunan politeknik di kawasan industri.

Upaya ini guna memudahkan perusahaan mendapatkan tenaga kerja kompeten sesuai kebutuhan zaman sekarang, terutama dengan adanya perkembangan teknologi industri 4.0.

“Kami telah memfasilitasi pembangunan politeknik industri logam di Morowali (Sulbar) dan politeknik industri furnitur di Kendal (Jateng),” ujarnya.

Langkah membangun kualitas sumber daya manusia ini sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0 serta program prioritas pemerintah pada 2019 yang akan dilaksanakan secara masif melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Kemenperin Siap Luncurkan Indikator Kesiapan Industri Hadapi Era 4.0

Published

on

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian siap meluncurkan indikator penilaian tingkat kesiapan industri dalam menerapkan teknologi era industri 4.0 atau Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).

Metode penilaian INDI 4.0 merupakan salah satu tahap implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“INDI 4.0 merupakan sebuah indeks acuan yang digunakan oleh industri dan pemerintah untuk mengukur tingkat kesiapan menuju industri 4.0,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Ngakan menjelaskan hasil pengukuran INDI 4.0 juga akan menjadi patokan dalam mengidentifikasi tantangan serta menentukan strategi dan kebijakan pemerintah guna mendorong sektor manufaktur bertransformasi menuju industri 4.0.

“Dalam indeks tersebut masing-masing industri melakukan penilaian mandiri (self-assessment) terhadap kemampuan mereka di bidang-bidang terkait revolusi industri 4.0 dan ini adalah program prioritas kami pada tahun 2019,” paparnya.

Adapun lima pilar yang akan diukur di dalam INDI 4.0, yaitu manajemen dan organisasi (management and organization), orang dan budaya (people and culture), produk dan layanan (product and services), teknologi (technology), serta operasi pabrik (factory operation).

Kemudian dari lima pilar tersebut, dirinci lagi menjadi 17 bidang, yakni strategi dan kepemimpinan, investasi menuju industri 4.0, kebijakan inovasi, budaya, keterbukaan terhadap perubahan, pengembangan kompetensi, kustomisasi produk, layanan berbasis data, produk cerdas, serta keamanan cyber.

Selanjutnya, konektivitas, mesin cerdas, digitalisasi, sistem perawatan cerdas, proses yang otonom, rantai pasok dan logistik cerdas, penyimpanan, serta sharing data.

“Dari 17 bidang inilah yang dijadikan acuan untuk mengukur kesiapan industri di Indonesia untuk bertransformasi menuju Industri 4.0,” ujar Ngakan.

Semetara itu, mengenai rentang skor penilaian, yang digunakan di dalam INDI 4.0 adalah dari level 0 sampai level 4.

Level 0 artinya industri belum siap bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1 berarti industri masih pada tahap kesiapan awal, level 2 yakni industri pada tahap kesiapan sedang.

Kemudian, level 3 artinya industri sudah pada tahap kesiapan matang bertransformasi ke industri 4.0, dan level 4 yaitu industri sudah menerapkan sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya.

Ngakan menyampaikan, pada acara peluncuran INDI 4.0 nanti, dirangkai dengan kegiatan konferensi, pameran, dan penghargaan yang akan dilaksanakan 20-21 Maret 2019 di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Acara tersebut terselenggara atas kerja sama Kemenperin dengan Asosiasi Cloud Computing Indonesia, yang rencananya dibuka secara resmi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari pihak pemerintah, pelaku dan asosiasi industri, serta akademisi. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Industri Lakukan Penyesuaian Imbas Perda Larangan Kantong Plastik

Published

on

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Safri Burhanuddin.

Ekbis.co.id, Jakarta – Kementerian Koordinator Budang Kemaritiman meyakini industri plastik akan melakukan penyesuaian sebagai cara mencari titik keseimbangan atas imbas pelarangan penggunaan kantong plastik di sejumlah daerah.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Safri Burhanuddin di Jakarta, Selasa (15/1/2019), menyebut larangan yang dibuat oleh sejumlah pemerintah daerah merupakan langkah nyata upaya Reduce (Mengurangi) dalam 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

“Mereka (industri) akan mencari titik keseimbangan baru karena larangan itu kan sifatnya untuk mengurangi sampah. Jangan sampai (kantong plastik) cuma dipakai sekali lalu dibuang,” katanya.

Safri meyakini industri plastik yang memproduksi kantong plastik akan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Dengan demikian, industri plastik akan tetap hidup dan terjaga.

“Cuma plastiknya akan berkurang di pemakaian kantong. Mungkin di tempat (produk) lain tidak berkurang,” katanya.

Penyesuaian oleh industri, lanjut Safri, mau tidak mau akan tetap harus dilakukan agar industri bisa bertahan di tengah tingginya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan.

“Industri harus bagaimana? Ya mereka harus banyak membuat produk ‘multiuse’ (bisa digunakan berulang) sehingga produksi mereka tidak berkurang. Ibarat produksi mobil, kalau motor yang lebih laku ya dikurangi produksinya,” tuturnya.

Pemerintah daerah di berbagai wilayah terus menggalakkan kampanye diet plastik dengan melarang penggunaan kantong plastik di ritel-ritel modern.

Kebijakan tersebut telah berlaku di beberapa kota seperti Bogor, Denpasar serta Samarinda dan akan menyusul di Bekasi dan Jakarta. (aij)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending