Connect with us

INDUSTRI

Tetra Pak Indonesia Terapkan Industri 4.0

Published

on

Managing Director PT Tetra Pak Indonesia Paolo Maggi (kiri) bersama dengan Adhi S. Lukman Ketua Umum GAPMMI (kanan).

Ekbis.co.id, Jakarta – Managing Director PT Tetra Pak Indonesia, Paolo Maggi mengatakan, perusahaannya telah mulai menerapkan industri 4.0 diawali dengan pemanfaatan teknologi digital dalam proses produksi.

“Kami mengawali dengan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) dalam dunia yang terkoneksi satu dengan lainnya,” kata Paolo Maggi di Jakarta, Minggu (2/12/2018).

Melalui teknologi digital diharapkan dapat terciptanya pengembangan bisnis yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian pelaku industri makanan minuman dapat merasakan peningkatan produktivitas, efisiensi bisnis, dan tentunya praktik bisnis yang mengedepankan tanggung jawab lingkungan,” jelasnya.

Paolo Maggi, mengatakan, Industri 4.0 yang tengah populer dan dianggap sebagai lompatan berikutnya dalam sejarah industri’ sangat terikat dengan semangat kami untuk mendorong bisnis pelaku industri makanan minuman Indonesia di masa depan.

Sedangkan Adhi S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI menjelaskan berdasarkan observasi GAPMMI, tren pertumbuhan industri makanan minuman hingga akhir tahun dapat mencapai sekitar 8-9 persen karena didorong oleh sejumlah faktor seperti pertumbuhan makro ekonomi Indonesia masih bisa dipertahankan diatas 5 persen

Menurut dia, pertambahan penduduk yang setiap tahun mencapai diatas 4 juta; tren perubahan gaya hidup, terutama di perkotaan; sebagian industri pangan besar mulai berbenah menuju penerapan industri 4.0 untuk meningkatkan daya saing di pasar global; serta dukungan pemerintah melalui percepatan belanja konsumsi Pemerintah.

Ditambah lagi harapan tambahan belanja dalam masa kampanye Pilpres dan Legislatif menuju 2019. Terdapat beberapa tantangan yang sebaiknya terus diawasi oleh para pelaku industri makanan minuman saat beradaptasi dengan Industri 4.0 seperti kapasitas SDM yang masih rendah kompetensinya, kurangnya penyedia teknologi, infrastruktur koneksi yang belum memadai di banyak area, keamanan data, rendahnya dana inovasi, serta belum memadainya regulasi pendukung.

Menurutnya penting bagi para pelaku industri makanan minuman untuk terus melakukan inovasi produk, mengutiliasi strategi bisnis secara digital, serta mempertimbangkan dampak lingkungan yang mungkin tercipta akibat proses bisnis.

Guna mempersiapkan dan mempercepat implementasi roadmap ‘Making Indonesia 4.0’, terdapat sejumlah solusi bisnis utama yang telah disediakan oleh Tetra Pak Indonesia dalam membantu pelaku industri makanan minuman di masa depan. Sejumlah solusi bisnis utama tersebut adalah

Pemrosesan, layanan pemrosesan berbasis traceability mulai dari bahan baku hingga produk akhir di tangan konsumen yang terintegrasi dengan lini produksi melalui Tetra Pak PlantMaster, sebuah sistem kontrol total untuk memastikan adanya konsistensi hasil produksi dan terjaganya kualitas serta keahlian perusahaan dalam memproses produk minuman, keju, yogurt, es krim, kelapa, dan lainnya;

Pengemasan, solusi Dynamic QR Code yang dapat menyesuaikan secara mudah setiap promosi dan pemasaran para pelaku industri makanan minuman tanpa harus mengganti QR Code yang telah tercetak dalam kemasan produk; dan terakhir

Layanan Perbaikan dengan teknologi Microsoft HoloLens guna menghubungkan tim ahli Tetra Pak global dengan teknisi lokal untuk menangani kerusakan mesin secara cepat dan akurat. Teknologi Microsoft HoloLens memungkinkan teknisi ahli Tetra Pak Global untuk melakukan layanan perbaikan seperti kerusakan pada mesin pabrik secara virtual tanpa adanya kunjungan fisik di lokasi tertentu.

Lebih lanjut, Paolo Maggi menerangkan bahwa digitalisasi dan pertukaran data (big data) di pabrik dan keseluruhan lini produksi harus diperhatikan oleh pelaku industri makanan dan minuman agar dapat memenangkan persaingan masa depan. “Hal tersebut merupakan cara cerdas dalam penggunaan teknologi digital untuk melakukan efisiensi dan menekan biaya operasional di pabrik, serta meminimalkan downtime (kerusakan mesin) dan meningkatkan kualitas serta profitabilitas.”

Tetra Pak Indonesia juga menerapkan prinsip bisnis ekonomi melingkar (circular economy) dimana kemasan produk yang digunakan akan dikumpulkan, dipilah, disortir, dan diolah menjadi produk daur ulang yang memiliki nilai guna tambahan.

Secara global, Tetra Pak telah memiliki komitmen jangka panjang untuk mendaur ulang kemasan karton. Sedangkan di Indonesia, pada 2017 lebih dari 100 ribu atap dan partisi rumah telah dibuat dari bahan hasil daur ulang dari Kemasan karton Tetra Pak.

Produk daur ulang ini juga digunakan untuk membuat bahan furnitur dan kertas daur ulang. Dalam 2 tahun terakhir lebih dari 50.000 anak sekolah telah di edukasi mengenai pentingnya pemilahan dan daur ulang sampah kemasan. (gan)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

INDUSTRI

Kemenperin : Industri Tak Terdampak Aksi Massa

Published

on

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar.

Ekbis.co.id, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan bahwa belum terlihat dampak dari aksi massa yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 terhadap aktivitas industri nasional.

“Karena baru berlangsung, jadi dampaknya belum terlihat,” kata Haris melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Haris meyakini, gejolak politik segera mereda dan aktivitas industri akan berjalan sebagaimana biasanya. “Nampaknya gejolak politik segera mereda, jadi belum ada langkah-langkah lain,” tukas Haris.

Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor sehingga kinerja investasi di Indonesia yang sudah baik akan semakin meningkat, dan tentunya investasi existing dapat lebih berdaya saing.

Kementerian Perindustrian mencatat, pada 2017, total investasi (PMA dan PMDN) di sektor industri mencapai Rp274,06 triliun atau berkontribusi sebesar 39,6 persen dari total investasi di Indonesia sebesar Rp692,8 triliun.

Nilai investasi terbesar yang disumbangkan oleh sektor manufaktur, antara lain dari industri makanan sebesar Rp64,74 triliun, industri logam, mesin dan elektronik Rp64,10 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp48,03 triliun.

Kemenperin memproyeksikan, investasi sektor industri pada tahun 2018 akan mencapai Rp352,16 triliun dan menjadi Rp387,57 triliun pada 2019.

Terkait dampak positif terhadap pertumbuhan industri, total tenaga kerja yang terserap pada 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibanding 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. (spg)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Akuisisi Holcim, Semen Indonesia Optimis Bisa Jualan Lebih Gampang

Published

on

Semen Indonesia Tbk (SMGR) optimis penjualan semen bisa jauh lebih agresif pasca akuisisi saham mayoritas Holcim Indonesia.

Ekbis.co.id, Jakarta – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) optimis penjualan semen bisa jauh lebih agresif pasca akuisisi saham mayoritas Holcim Indonesia. Lewat anak usahanya, PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIBB) saat ini menguasai 80,6% saham di Holcim.

Direktur Pemasaran & Supply Chain Semen Indonesia, Adi Munandir, mengatakan kalau masuknya Holcim dalam holding akan membuka pasar baru yang jauh lebih luas. Selain itu, efisiensi dalam operasi dan pemasaran juga sangat signifikan setelah proses integrasi aset-aset eks Holcim rampung.

“Akuisisi Holcim itu menambah kapasitas (produksi) 14 juta ton. Harapannya pasti penjualan meningkat, tapi itu tergantung demand yang ada. Dengan optimalisasi dari dua perusahaan yang sudah ada dan sinergi lewat akuisisi, kita bisa create pasar baru berdasarkan program-program yang sudah kita susun,” terang Adi usai RUPS di Hotel Sheraton, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Saat diakuisisi, Holcim mengoperasikan empat pabrik semen di Narogong (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Tuban (Jawa Timur), dan Lhoknga (Aceh), dengan total kapasitas 14,5 juta ton semen per tahun, dan mempekerjakan lebih dari 2,400 orang.

Efisiensi, sambung Adi, baru akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan. Selain integrasi pabrik, Holcim memiliki puluhan pabrik pengemasan dan distribution center yang akan membuat pemasaran semen bisa menjadi sangat murah dan penetrasi pasar bisa lebih efektif.

“Setelah akuisisi Holcim, kita integrasikan plant, distribution center ada 20 unit, dan packing plant yang jumlahnya 36 unit. Kita sedang melakukan re-modelling sehingga bisa melayani pasar-pasar dengan cost yang paling efisien. Kita memperbaiki tak hanya kinerja (produksi) saja, tapi juga dari sisi efisiensi di supply chain, penjualan, dan pemasaran,” ungkap Adi.

Sebagai informasi, Semen Indonesia telah merampungkan proses pengambialihan saham PT Holcim Indonesia Tbk pada 31 Januari lalu. Semen Indonesia membeli 6.179.612.820 saham Holcim dengan harga Rp 2.097 per lembar. Sehingga, total harga pembelian 80,64% saham itu senilai Rp 12,9 triliun.

Tujuan pengambilalihan saham Holcim antara lain untuk memperluas jaringan pabrik semen di dalam negeri, memperluas diversifikasi jenis produk yang ditawarkan, meningkatkan efisiensi, khususnya biaya distribusi dan bahan baku.

Kemudian memperkuat posisi bisnis ready mix dengan berbagai variasi produk dan solusi, serta memperkuat sinergi di berbagai bidang untuk meningkatkan efisiensi. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDUSTRI

Tambah Lima Pabrik, Sariguna Primatirta Siapkan Investasi Rp300 Miliar

Published

on

Jajaran direksi PT Sariguna Primatirta Tbk, usai paparan publik di hotel Vasa Surabaya Rabu (22/05/2019)

Ekbi.co.id, Suarabaya – Perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK), PT Sariguna Primatirta Tbk berencana menambah lima pabrik baru tahun ini. Kelima pabrik tersebut berlokasi di Sukabumi, Bali, Singosari, Kediri dan Prigen. Total investasi yang digelontokan untuk lima pabrik tersebut mecapai Rp300 miliar.

Direktur Operasional PT Sariguna Primatirta Tbk Nio Eko Susilo mengatakan, dengan penambahan lima pabrik tersebut, maka total jumlah pabrik produsen air minum merek Cleo ini sebanyak 27 unit. Kelima pabrik tersebut ditargetkan akhir tahun ini sudah bisa beroperasi.

“Nilai investasi yang kami kucurkan memang cukup besar. Ini karena mesin yang kami beli merupakan mesin canggih. Permintaan pasar Cleo saat ini cukup tinggi. Sehingga kami harus cepat memenuhi permintaan pasar tersebut,” ujar Nio dalam Public Expose PT Sariguna Primatirta Tbk, Rabu (22/5/2019).

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan Sariguna Primatirta, selama 2018, emiten berkode saham CLEO itu mencatat penjualan sebesar Rp831,10 miliar. Kemudian laba bersih sebesar Rp63,62 miliar. Penjualan bersih tersebut meningkat 35,21% dibanding 2017 yang sebesar Rp614,677 miliar.

Segmen botol berkontribusi 37,02% terhadap total penjualan. Diikuti galon 34,80%, gelas 27,85% dan lain-lain sebesar 0,32%. Penjualan di segmen botol selama 2018 mencapai Rp307,67 miliar. Di segmen galon, sebesar Rp289,26 miliar dan gelas Rp231,48 miliar.

Sedangkan lain-lain menjadi Rp2,69 miliar. Sedangkan selama triwulan I 2019, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp223,5 miliar, tumbuh 37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp162,5 miliar. Laba bersih tercatat Rp25,2 miliar atau tumbuh 101%dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12,5 miliar. “Tahun ini kami menargetkan penjualan sebesar Rp1,2 triliun dan untuk laba kami harapkan bisa tumbuh sama seperti capaian di triwulan I,” tandas Nio.

Direktur Penjualan dan Distribusi PT Sariguna Primatirta Tbk Toto Sucartono optimistis target penjualan tahun ini akan tercapai. Hal ini karena selama triwulan I penjualan cukup positif. Padahal, pada triwulan I merupakan masa sulit bagi produsen AMDK. Sebab, saat itu adalah musim penghujan. “Pada musim penghujan saja penjualan bagus, apalagi pada musim kemarau,” imbuhnya. (*)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending