Connect with us

TOURISM

Kembangkan Pariwisata Sulsel dengan Bermacam Inovasi

Published

on

Provinsi Sulawesi Selatan mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung melalui pintu Makassar mengalami penurunan sekitar 38,53 persen.

Ekbis.co.id, Makassar – Pariwisata sebagai salah satu andalan pedapatan asli daerah perlu dikembangkan untuk menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke suatu tempat, di tengah persaingan dengan deerah tujuan wisata lain.

Berbagai inovasi yang kreatif diperlukan untuk menciptakan keunggulan sehingga obyek wisata yang ditawarkan menjadi lebih berdaya pikat, terutama ketika jumlah kunjungan wisatawan menurun seperti yang dialami Provinsi Sulawesi Selatan pada beberapa periode pada 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung melalui pintu Makassar mengalami penurunan sekitar 38,53 persen pada Mei dibanding April 2018.

Jumlah wisman yang datang di Sulsel pada Mei sebanyak 659 orang, berbanding hampir setengah pada April 2018 yang justru didatangi sebanyak 1.072 kunjungan wisatawan.

Penurunan terjadi oleh beberapa hal yang salah satunya pada waktu itu memasuki bulan Ramadhan. Untuk alasan yang juga patut menjadi perhatian yakni akibat tidak adanya kegiatan yang membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung.

BPS mencatat berdasarkan perbandingan secara tahunan atau year on year (yoy) juga begitu terasa Bahkan penurunan kunjungan lebih tinggi lagi yang mencapai 41,73 persen. Pada Mei 2017, tingkat kunjungan wisman ke Sulsel mencapai 1.131 orang dibandingkan Mei tahun ini yang hanya 659 orang.

Tingkat penurunan wisman yang begitu tinggi hingga hampir mencapai setengahnya ternyata mendapatkan perhatian serius dari seluruh pihak yang berkepentingan di daerah yang kini dipimpin Gubernur Nurdin Abdullah tersebut.

Termasuk di antaranya Dewan Pengurus Daerah ((DPD) Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulawesi Selatan yang mulai menggarap sejumlah daerah yang berpotensi bagi pengembangan wisata olahraga atau “sport tourism”.

Ketua DPD Asita Sulsel Didi L Manaba mengatakan ada beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang cocok dan layak dijadikan destinasi wisata olahraga seperti di Kepulauan Selayar, Malino, Enrekang, Kabupaten Maros, dan sebagainya.

Di Kepulauan Selayar misalnya, daerahnya yang memiliki bukit atau gunung bisa dimanfaatkan menjadi rute untuk kendaraan motor trail atau jenis wisata motor cross.

Apalagi, di daerah tinggi itu masyarakat atau wisatawan bisa melihat Kepulauan Selayar secara luas dan hal tersebut tentu bisa menarik wisatawan.

Wisata olahraga yang selama ini baru dibuat dalam konsep lari maraton lintas alam, seperti yang telah digelar Dinas Pariwisata Sulsel di beberapa daerah yaitu di Malino, Pantai Bira Bulukumba, ataupun sekitar Karts Rammang-rammang di Kabupaten Maros dinilai masih kurang dana perlu inovasi yang lebih mberikan tantangan dan menarik wisatawan.

Untuk jenis olahraga yang lebih ekstrem di Sulsel sendiri juga belum mendapatkan wadah khusus.

Namun, Asita Sulsel telah memahami hal itu karena untuk menjalankannya memang harus didukung sarana dan prasarana yang memadai.

Sejauh ini, sudah ada daerah yang mengambil imej “sport tourism”, yakni Sumatera Selatan didukung berbagai fasilitas dan sarana yang lebih lengkap.

“Namun tidak ada salahnya jika bisa mengadopsi konsep `sport tourism` ini di Sulsel. Apalagi di Sulsel ini banyak daerah yang punya potensi,” ujar Didi.

Apalagi Asita Sulsel memang sejak awal fokus memunculkan berbagai destinasi baru.

Potensi destinasi yang tersebar di sejumlah daerah di Sulsel memang belum begitu populer karena belum mendapatkan perhatian serius sehingga perlu untuk mulai digarap

Pihak Asita juga fokus untuk pengembangan destinasi baru di Toraja, Enrekang, dan sejumlah daerah lain di Sulsel.

Daerah lainnya, seperti Kabupaten Gowa, Takalar, Maros, dan Bantaeng, katanya, juga memiliki banyak potensi yang layak untuk dijual ke wisatawan domestik dan internasional.

Selain panorama alam yang mengagumkan, katanya, Sulawesi Selatan yang memiliki banyak kebudayaan asli yang tentunya patut ditawarkan ke masyarakat internasional.

“Untuk mengembangkan ratusan destinasi yang ada tentu harus mendapatkan komitmen bersama, baik pemerintah setempat, seluruh `stakeholder`, atau mitra kerja,” lanjut Didi Manaba.

Asita bersama Pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Sulsel sejak awal juga terus fokus memunculkan berbagai destinasi baru.

Destinasi yang tersebar di sejumlah daerah di Sulsel yang memang belum begitu populer karena belum mendapatkan perhatian serius mulai digarap seperti pengembangan destinasi baru di Toraja atau Enrekang.

Sementara daerah lain seperti Kabupaten Gowa, Takalar, Maros dan Bantaeng juga memiliki begitu banyak potensi yang layak untuk dijual ke masyarakat domestik dan internasional.

Selain panorama alam yang mengagumkan, Sulawesi Selatan yang memiliki banyak kebudayaan asli yang tentunya patut untuk ditawarkan ke masyarakat internasional.

“Untuk mengembangkan ratusan destinasi yang ada tentu harus mendapatkan komitmen bersama baik pemerintah setempat, seluruh stakeholder atau mitra kerja,” ujarnya.

Selanjutnya Asita bersama Pemkot Makassar juga mulai menggarap Desa Lakkang Makassar untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi unggulan bagi Kota Makassar, Sulsel.

Desa tradisional Lakkang memang punya potensi sebagai destinasi pilihan karena memiliki berbagai hal yang bisa ditawarkan termasuk tentunya keberadaan bunker tentara Jepang.

Desa Lakkang yang terletak di antara Sungai Tallo dan Sungai Pampang Makassar it selama ini memang menjadi kawasan penelitian terpadu. Bahkan berbagai peneliti dari Jepang juga untuk saat ini masih berada di Desa Lakkang.

Selain sebagai pusat penelitian terpadu, Desa Lakkang juga selama ini dikenal sebagai daerah konservasi alam serta budaya.

Keberadaan pohon-pohon nipah, dan bakau yang dapat dijumpai juga bisa memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat atau wisatawan yang ingin berkunjung ke daerah yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

“Berbagai potensi yang dimiliki Desa Lakkang itulah yang kita benahi agar bisa lebih menjual. Kami berharap kedepan, Desa Lakkang bisa menjadi salah destinasi tujuan wisata baru di Makassar,” jelasnya.

Provinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Barat berkomitmen menjalin kerja sama dalam upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan kedua daerah tersebut.

Kedua provinsi itu saling bergantian mempromosikan berbagai destinasi unggulan bagi masyarakat di daerah masing-masing.

Baik Sulsel ataupun Jawa Barat memang punya potensi yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan. Seperti Jawa Barat yang memiliki penduduk yang begitu besar sehingga berpeluang untuk diajak berwisata ke Sulawesi Selatan.

Sebaliknya potensi Sulsel yakni kondisi perekonomian ataupun pendapatan masyarakat yang cukup tinggi yang memungkinkan untuk bisa mencoba pengalaman baru berwisata ke Kota Kembang.

“Jadi potensi inilah yang coba kami maksimalkan bersama, sepeti ajang bertukar wisatawan dengan saling mengunjungi,” sebut dia.

Diharapkan kerja sama ini dapat berjalan dan kunjungan wisatawan kedua daerah bisa mengalami peningkatan.

Asita dan Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan bekerja sama KBRI Untuk Filipina mempromosikan destinasi unggulan daerah itu di Manila.

“Kami bersama pihak KBRI siap mempromosi sejumlah destinasi unggulan Sulsel. Kami lihat potensi wisatawan dari negara itu begitu besar sehingga layak dimanfaatkan,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, kegiatan itu juga untuk saling menjalin kerja sama mempromosikan destinasi unggulan kedua belah pihak.

Berikutnya bersama Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan ?menyasar potensi wisatawan asal Pulau Sumatera agar bisa datang menikmati berbagai destinasi unggulan Sulsel.

Asita dan Badan Promosi Disbudpar Sulsel bersiap melakukan promosi wisata di Padang, Sumatera Barat, September 2018.

Untuk tahun ini memang tengah fokus menggarap wisatawan dari Sumatera. Apalagi peluang mendapatkan wisatawan asal Sumatera dianggap cukup tinggi berdasarkan kunjungan wisatawan domestik ke Sulsel.

Asita Sulsel juga menyiapkan paket-paket baru dari sejumlah daerah seperti Tana Toraja, Palopo dan Kabupaten Enrekang melalui penyediaan bandara.

Menuju Selayar

Pulau Selayar, sebuah pulau kecil yang menawan kini banyak diminati wiatawan, namun kendalanya adalah akses menuju pulau tersebut belum selancar kebutuhan wisatawan.

Oleh sebab itu Dewan Pengurus Daerah Asita Sulsel bergairah menyambut keputusan Garuda Indonesia yang membuka rute baru Makassar-Selayar (PP).

Ketua DPD Asita Sulsel, Didi Leonardo mengatakan dengan pembukaan akses ke Selayar melalui jalur penerbangan tentu semakin meningkatkan potensi pariwisata di daerah itu untuk dikunjungi.

“Kami dari Asita tentunya begitu mengapresiasi atas komitmen dan dedikasi pihak Pemkab Selayar dan Garuda Indonesia yang saya bilang berani. Pemkab Selayar juga tidak setengah-setengah dalam upaya mereka meningkatkan kunjungan pariwisata ke daerah itu,” katanya.

Terkait tingkat kunjungan wisatawan ke pusat destinasi, kata dia, tentunya tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. Artinya meski daerah itu memiliki sejuta pesona, namun jika susah menjangkaunya tentu tidak akan berkembang maksimal.

? Pemkab Selayar sudah siap memperluas bandara yang tentunya semakin membuktikan bagaimana keseriusan pamerintah untuk menjadikan Selayar sebagai salah satu kunjungan wisatawan terbaik di Indonesia.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono juga mengapresiasi maskapai Garuda yang memberikan peluang bagi Pemda setempat untuk mengembangkan potensi wisata di daerah yang berjulukan Tanah Doang ini.

“Dengan adanya rute baru ini, memungkinkan orang mengunjungi Selayar dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan transportasi darat, sehingga orang akan lebih banyak lagi ke Selayar melihat potensi wisatanya,” katanya.

Dia mengatakan, rute baru ini diharapkan dapat terhubung dengan daerah lainnya, agar pengunjung dapat dari satu objek ke objek wisata lainnya.

Panjabat Gubernur Sulsel inipun menantang Bupati Kepulauan Selayar untuk menjemput bola dalam mengembangkan sektor pariwisata di wilayah kerjanya.

Mengembangkan obyek wisata memang saling terkait, mulai dari potensi alam dan budaya ditunjang sarana dan prasana serta akan lebih baik bila pengemasan obyek wisata dilakukan melalui inovasi yang kreatif, sehingga memberi nilai tambah pada obyek tersebut. (abd)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

TOURISM

Menpar Ingatkan Perguruan Tinggi Pariwisata Harus Berstandar Global

Published

on

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya.

Ekbis.co.id, Lombok – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengingatkan perguruan tinggi pariwisata yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pariwisata harus memiliki kurikulum berstandar global dengan membuka kelas internasional.

Menpar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, mengatakan peningkatan standar kurikulum pendidikan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM pariwisata.

Sebelumnya, ia meresmikan gedung rektorat Politeknik Pariwisata Negeri Lombok, NTB, pada Kamis (21/2/2019).

Menpar mengatakan pihaknya akan mengembangkan dua sekolah pariwisata yang membuka kelas internasional tahun ini.

“Mulai Maret nanti, STP Bandung dan Bali akan membuka kelas internasional. Kelas ini bekerja sama dengan Victoria University di Australia. Saya minta tahun depan Poltekpar Lombok juga bisa membuka kelas internasional,” ujarnya.

Pentingnya transformasi kualitas SDM ini, menurut Arief, pernah dibahas bersama Presiden Joko Widodo.

“Dalam diskusi bersama Presiden, saya sempat ditanya bagaimana membangun kualitas SDM. Saat itu, saya usulkan, kita bisa ‘benchmark’ ke negara-negara yang sukses SDM-nya seperti China, Singapura, dan Malaysia,” katanya.

Cara lain untuk meningkatkan kualitas SDM, lanjutnya, adalah mendatangkan tenaga-tenaga pengajar asing.

“Saya yakin bila orang terbaik didatangkan ke Indonesia, ini bisa meningkatkan mutu SDM. Cara yang paling efektif saat ini adalah dengan membuka kelas internasional di sekolah pariwisata,” ujar Menpar.

Selain kelas internasional, Menpar menekankan pentingnya perguruan tinggi negeri pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata untuk menerapkan 3C yakni curriculum, certification, dan center of excellence.

“Untuk curriculum harus berbasis standar dunia. Certification, mewajibkan semua lulusan sekolah di bawah Kemenpar, dosen, serta perguruan tingginya harus terstandarisasi dengan standar ASEAN. Sementara itu, center of excellence, mewajibkan setiap orang memiliki keahlian khusus untuk masuk ke dalam industri pariwisata. Maka dari itu, saya minta setiap sekolah pariwisata memiliki spesialisasinya masing-masing misal Bandung untuk kuliner, Bali untuk budaya, dan Lombok terkait wisata halal,” ujar Menpar.

Sebagai komitmen untuk mendukung upaya peningkatan kualitas SDM pariwisata di Lombok, Kemenpar menganggarkan dana yang cukup besar.

“Tahun 2019, Kemenpar menyediakan anggaran Rp227 miliar untuk Poltekpar Lombok. Tahun ini, kami berencana melakukan pembangunan dapur praktik, restoran praktik, dan hotel praktik dengan 60 kamar berstandar bintang 4,” ujar Direktur Utama Politeknik Pariwisata Lombok Hamsu Hanafi.

Sementara itu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah berharap melalui peresmian Poltekpar Lombok, generasi muda di wilayahnya tidak hanya menjadi penonton bagi berkembangnya pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

“Poltekpar penting karena merupakan terobosan pemerintah dalam menghadirkan world class tourism polytechnic. Bila Menpar memprediksi dengan diselenggarakan MotoGP akan mendatangkan 100.000 wisman dan mulai banyak didirikan hotel-hotel baru, maka saya mau anak-anak NTB tidak hanya jadi penonton, tapi juga aktor,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa Poltekpar Lombok selama tiga tahun terakhir sebanyak 809 mahasiswa.

Pada 2016, Poltekpar Lombok menerima sebanyak 120 mahasiswa, kemudian pada 2017 jumlah mahasiswa yang diterima sebanyak 380 mahasiswa, dan pada 2018 sebanyak 343 mahasiswa.

“Rencananya pada 2019 ini, kami akan menerima sebanyak 340-an mahasiswa baru, sama seperti target tahun lalu,” ujar Hamsu Hanafi. (han)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOURISM

Kemenpar Gelar “Famtrip” Dorong Pemulihan Pariwisata Lombok

Published

on

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya, dalam seminar bertajuk "Sosialisasi Promosi Pariwisata Pada Media Nasional" di Katamparan Resort, Lombok, Kamis (21/2/2019).

Ekbis.co.id, Lombok – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar “familiarization trip” (famtrip) yang melibatkan puluhan jurnalis dari berbagai media nasional untuk mendorong pemulihan pariwisata Lombok pasca-gempa.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya, dalam seminar bertajuk “Sosialisasi Promosi Pariwisata Pada Media Nasional” di Katamparan Resort, Lombok, Kamis (21/2/2019), mengatakan pihaknya ingin pariwisata Lombok kembali pulih dan normal.

“Kita ingin Lombok kembali normal, ini adalah rangkaian dalam mendukung ‘recovery’ Lombok,” katanya.

Ia mengatakan, gempa bumi yang terjadi di Lombok pada Agustus tahun lalu berdampak sangat signifikan dalam menurunkan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia secara umum.

“Dari September hingga Desember penurunan sampai 60 persen, sebulan kehilangan 10 ribu,” katanya. Oleh karena itu, pihaknya berupaya mendorong segera pulihnya pariwisata di NTB salah satunya mempersiapkan empat agenda wisata di NTB yang masuk dalam kalender agenda wisata nasional 2019 yakni Festival Pesona Bau Nyale, Festival Moyo, Festival Tambora, hingga Pesona Khazanah Ramadhan.

Pihaknya juga menggelar 30 kegiatan promosi, famtrip dan delapan kegiatan promosikan NTB di lima negara yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Inggris.

“Famtrip ini untuk memberikan kepercayaan kembali kepada masyarakat bahwa Lombok aman dan normal,” katanya. (han)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOURISM

Pariwisata di Gili Lombok Disebutkan Belum Pulih Enam Bulan Pascabencana

Published

on

Salah Satu tempat Wisata di Gili, Lombok.

Ekbis.co.id, Gili Trawangan – Pariwisata di Gili Trawangan sebagai barometer wisata Lombok, NTB, disebut belum sepenuhnya pulih enam bulan pascabencana.

“Sebelum gempa, jumlah kedatangan wisatawan di Pulau ini berkisar 2.000-3.000 orang per hari, saat ‘high season’ bisa mencapai 5.000 orang. Tapi hingga hari ini rata-rata baru mencapai 900 orang per hari,” kata General Manager Aston Sunset Beach Resort Gili Trawangan, Emanuel Prasojo Aji, di Gili Trawangan, Kamis (21/2/2019).

Ia memperkirakan dengan kondisi saat ini, meskipun ada perkembangan mengarah pada pemulihan tapi diperlukan waktu setidaknya setahun untuk membuat pariwisata di wilayah itu sepenuhnya kembali normal.

Pascabencana terjadi jumlah wisatawan yang datang pertambahannya sangat lambat mulai dari 100 orang per hari menjadi 200 orang, kemudian 300 orang lalu stabil di kisaran 600 orang per hari.

Pada malam tahun baru 2019 jumlahnya meningkat menjadi 900 wisatawan dan hingga kini masih stabil pada rata-rata angka 900 wisatawan per hari.

“Kami asumsikan wisatawan domestik masih takut. Wisman justru tidak, mereka lebih menganggap bahwa gempa dimanapun bisa terjadi tapi lebih takut pada teroris. Mereka yakin dan tetap datang,” katanya.

Namun, belum pulih sepenuhnya infrastruktur di kawasan itu juga membuat kinerja sektor pariwisata belum optimal.

“Pembangunan kembali baru sekitar 50 persen
dari 500 properti yang ada di Gili Trawangan,” katanya.

Lambatnya pembangunan kembali infrastruktur termasuk akomodasi yang rusak akibat gempa disebabkan banyaknya pemilik properti yang terbentur kesulitan dana, lamanya proses klaim asuransi, hingga kesulitan lantaran mahalnya biaya untuk membuang puing dan sampah pasca-bencana.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah bantuan untuk pembersihan sisa dan bekas bencana, pembangunan infrastruktur pascabencana termasuk jalannya, pelabuhan, dan terpenting penanganan sampah,” katanya. (han)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending