Connect with us

FINANSIAL

Bank Dunia : Indonesia Perlu Tingkatkan Investasi “Human Capital”

Published

on

Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim.

Ekbis.co.id, Nusa Dua – Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mendorong pemerintah semua negara dengan nilai Human Capital Index (HCI) yang masih rendah, termasuk Indonesia, untuk mengambil langkah cepat dan tepat untuk meningkatkan investasi human capital.

Berdasarkan laporan HCI Bank Dunia yang diluncurkan dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018), nilai HCI Indonesia 0,53 yang diukur berdasarkan jarak masing-masing negara ke titik batas masa pendidikan dilaksanakan secara lengkap dan kesehatan secara penuh untuk anak yang lahir hari ini dalam skala 0-1, dengan 1 menjadi nilai terbaik.

Presiden Bank Dunia menggarisbawahi human capital yang meliputi keseluruhan pengetahuan dan keterampilan dan kesehatan yang dimiliki individu selama hidup mereka telah menjadi faktor kunci di balik pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tingkat pengurangan kemiskinan di banyak negara pada abad ke-20, terutama di kawasan Asia Timur.

“Namun demikian, investasi dalam kesehatan dan pendidikan belum mendapatkan perhatian yang layak. Indeks ini menghubungkan langsung perbaikan hasil di bidang kesehatan dan pendidikan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi. Saya berharap ini mendorong negara-negara untuk mengambil tindakan segera dan berinvestasi lebih banyak, lebih efektif pada masyarakat mereka,” kata Jim Yong Kim.

Sementara itu, empat negara dengan pendapatan menengah di kawasan ASEAN lainnya, yakni Malaysia 0,62; Filipina 0,55; Thailand 0,60; dan Vietnam 0,67. Vietnam baru-baru ini mencapai salah satu skor PISA tertinggi untuk rata- rata negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

HCI mencerminkan produktivitas anak yang lahir hari ini sebagai pekerja masa depan, dibandingkan dengan kemungkinan yang bisa terjadi jika ia memiliki kesehatan yang baik dan pendidikan yang lengkap serta berkualitas tinggi.

Ukuran penghitungan meliputi 3 kriteria, yakni kelangsungan hidup (akankah anak-anak yang lahir hari ini bertahan hidup hingga mereka mencapai usia sekolah?), pendidikan (berapa banyak masa sekolah yang akan mereka selesaikan dan berapa banyak yang akan mereka pelajari?), kesehatan (apakah mereka akan meninggalkan bangku sekolah dengan kesehatan yang baik, siap untuk belajar lebih lanjut dan/atau bekerja saat mereka dewasa?).

Menurut kriteria tersebut, jika skor suatu negara, misalnya 0,5, berarti individu dan negara secara keseluruhan kehilangan setengah potensi ekonomi masa depan mereka.

Artinya, HCI Indonesia yang 0,53 mengindikasikan pemerintah perlu meningkatkan investasi yang efektif untuk meningkatkan kualitas human capital melalui kesehatan dan pendidikan demi daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.

Bank Dunia mengukur HCI berdasarkan tingkat pendapatan dari 158 negara yang menunjukkan bahwa 56 persen anak-anak yang lahir hari ini di seluruh dunia akan kehilangan lebih dari setengah potensi pendapatan seumur hidup mereka karena pemerintah mereka saat ini belum melakukan investasi yang efektif pada penduduk untuk memastikan populasi yang sehat, berpendidikan, dan tangguh siap untuk tempat kerja di masa depan.

Singapura menjadi negara dengan HCI tertinggi di dunia dengan nilai 0,88, sementara di Asia, angka tersebut disusul Jepang dan Korea Selatan dengan HCI masing-masing 0,84. (zah)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

Asian Games Diestimasi Sumbang Pertumbuhan 0,05 Persen

Published

on

Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro.

Ekbis.co.id, Jakarta – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan penyelenggaraan Asian Games 2018 telah berpengaruh terhadap penambahan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 0,05 persen.

“Kegiatan Asian Games 2018 bisa membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,05 persen,” kata Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Bambang mencontohkan bahwa apabila perkiraan awal pertumbuhan ekonomi nasional tanpa ada Asian Games 2018 adalag sebesar 5,15 persen, maka dengan adanya Asian Games mampu menambah pertumbuhan ekonomi menjadi 5,2 persen.

Bappenas juga mencatat dampak ekonomi tidak langsung dari Asian Games mampu memberikan keuntunganbekonomi riil hingga Rp8,2 triliun pada 2018. Efek pengganda terhadap output perekonomian sepanjang 2015-2019 sebesar Rp42,4 triliun.

Asian Games paling banyak memberikan sumbangan terhadap ekonomi DKI Jakarta dengan tambahan peningkatan pertumbuhan ekonomi 0,23 persen dan keuntungan nilai riil mencapai Rp5,9 triliun pada 2018.

Pelaksanaan Asian Games di Sumatera Selatan ditaksir akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 0,57 persen dan memberikan keuntungan riil Rp2,3 triliun di 2018.

Kemudian, Asian Games juga memberikan dampak bagi ekonomi Jawa Barat dan Banten meskipun tidak signifikan, yaitu tambahan pertumbuhan ekonomi 0,001 persen dengan keuntungan ekonomi riil Rp33,2 miliar pada 2018.

Kesempatan kerja

Bambang mengatakan dampak ekonomi penyelenggaraan Asian Games 2018 juga terefleksi pada penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan upah riil.

Jumlah kesempatan kerja selama 2015-2018 dari persiapan dan penyelenggaraan Asian Games diperkirakan mencapai 108.780 kesempatan kerja dan meningkatkan upah riil 0,03 persen.

Penambahan kesempatan kerja terbesar terjadi pada 2017 yaitu mencapai hampir 50 ribu orang karena mengejar penyelesaian pembangunan infrastruktur.

“Keberadaan Asian Games, dari persiapan sampai pelaksanaan, juga membantu upaya pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Bambang.

Dampak terhadap penciptaan kesempatan kerja di DKI Jakarta dari Asian Games mencapai 57.300 orang (2015-2019) dengan peningkatan upah riil 0,46 persen dan Sumatera Selatan 51.500 orang dengan peningkatan upah riil 0,36 persen. (vin)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Indonesia-Jepang Perbarui Pertukaran Mata Uang Senilai 22,76 Miliar Dolar

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Ekbis.co.id, Nusa Dua – Bank Indonesia dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) menyepakati pembaruan perihal perjanjian kerja sama bilateral pertukaran mata uang (Bilateral Swap Arrangement/BSA) senilai 22,76 miliar dolar AS.

Dengan pembaruan kesepakatan ini, Indonesia dapat melakukan pertukaran mata uang (swap) rupiah dengan dolar AS dan atau Yen Jepang, dari yang sebelumnya hanya dolar AS, kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pernyataan tertulis diterima di Nusa Dua, Bali, Senin.

Pembaruan perjanjian tersebut diteken di tengah rangkaian pelaksaan pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank).

Perry Warjiyo menjelaskan kerja sama ini mencerminkan penguatan kerja sama keuangan bilateral antara Indonesia dan Jepang.

Dia meyakini kerja sama ini akan berkontribusi positif terhadap upaya menjaga stabilitas di pasar keuangan dan mendorong penggunaan mata uang lokal kedua negara di Asia dalam jangka menengah serta mendorong perdagangan antara Indonesia dan Jepang.

“Selanjutnya, (kerja sama ini dapat) mendorong pertumbuhan ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Jepang,” ujar Perry.

BI sebelumnya juga meneken kerja sama traksasi pertukaran nilai mata uang dalam bentuk swap dan repo senilai 10 miliar dolar AS dengan Singapura di Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018.

Selain dengan Jepang dan Singapura, BI juga memiliki sejumlah kerja sama pertukaran mata uang dengan negara lain seperti Australia, China, dan Korea Selatan.

Selain itu, Indonesia juga memiliki kesepakatan pertukaran mata uang secara multilateral bersama sejumlah negara ASEAN, ditambah China, Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan dalam bentuk kesepakatan Inisiatif Chiang Mai. (iap)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

BTN Fasilitasi KPR Atlet KOI

Published

on

Direktur Utama BTN, Maryono.

Ekbis.co.id, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN) memfasilitasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atlet yang tergabung dalam Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sehingga mereka bisa memiliki rumah dengan skema menarik dan terjangkau.

“Tidak hanya atlet, pengurus, anggota KOI lainnya juga bisa mendapatkan fasilitas KPR,” kata Direktur Utama BTN, Maryono di Jakarta, Senin (15.10.2018), usai penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) dengan Ketua Umum KOI, Eric Thohir.

Maryono mengatakan, kerja sama ini sejalan dengan komitmen menyukseskan Program Satu Juta Rumah sekaligus mendukung kesejahteraan para atlet nasional, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menggelar kemitraan dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Lewat kemitraan tersebut, jelas Maryono, pengurus, anggota dan ribuan atlet nasional yang tergabung dalam KOI bisa memiliki rumah dengan skema menarik dan terjangkau.

Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan melalui kerja sama ini, perseroan memberikan beragam kemudahan untuk memiliki rumah bagi para pengurus dan anggota termasuk para atlet berprestasi yang dinaungi KOI.

“Berbagai kemudahan tersebut menjadi wujud apresiasi kami bagi para pengurus, anggota, terutama atlet yang telah dan terus mengharumkan nama Indonesia. Dengan semakin banyaknya atlet yang bisa memiliki rumah, kami harapkan dapat menjadi pemacu semangat mereka untuk terus berkarya bagi negeri,” jelas Maryono .

Melalui kerja sama ini, para atlet Indonesia yang terdaftar dan mendapatkan referensi dari KOI bisa mendapatkan program KPR dan KPA baik untuk hunian baru maupun bekas. Atlet-atlet tersebut juga bisa mengajukan KPR mulai dari usia 18 tahun.

Bank BTN juga memberikan jangka waktu kredit KPR hingga 30 tahun bagi para atlet nasional. Kemudian, untuk KPA, perseroan memberikan jangka waktu kredit hingga 20 tahun.

Bank spesialis kredit perumahan ini juga menawarkan berbagai keringanan seperti uang muka mulai dari 5 persen, bebas biaya administrasi dan provisi, dan bebas biaya appraisal.

Para anggota dan pengurus KOI juga bisa menikmati fasilitas KPR Zero yang memudahkan debitur untuk mengangsur bunganya saja selama dua tahun pertama. Kemudian, usai dua tahun berikutnya, debitur baru membayar angsuran pokok dan bunga.

Sebagai informasi, hingga kini, KOI memiliki 12 pengurus inti dengan ribuan atlet anggota dari 61 cabang olahraga. Pada pesta olahraga Asian Games 2018 yang digelar belum lama ini, KOI mengirimkan 968 atlet berprestasi. Para atlet tersebut berhasil meraih 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu.

Sementara itu, per Agustus 2018, emiten bersandi saham BBTN tersebut telah menyalurkan KPR dan pembiayaan pemilikan rumah (PPR) sebesar Rp160,71 triliun atau tumbuh 22,07 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp131,64 triliun pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

Secara total, hingga bulan ke delapan tahun ini, Bank BTN mencatatkan penyaluran kredit senilai Rp196,25 triliun. Posisi tersebut tumbuh 19 persen yoy dari Rp 165,09 triliun di periode yang sama tahun lalu. (gan)


Media Ekbis menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiekbis@gmail.com, dan redaksi@ekbis.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending